Pada kesempatan yang mulia ini,
di tempat yang mulia, dan di hari yang mulia ini, marilah kita selalu menjaga
dan meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketakwaan kita kepada Allah dengan
sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang dibangun karena mengharap keridhaan
Allah Subhanahu Wata’ala dan bukan keridhaan manusia, ketakwaan yang dilandasi
karena ilmu yang bersumber dari al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah, dan ketakwaan
yang dibuktikan dengan amal perbuatan dengan cara menjalankan setiap perintah
Allah dan Nabi-Nya karena mengharap rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dan
berusaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan
Allah dan NabiNya karena takut terhadap azab dan siksa Allah Subhanahu
Wata’ala.
Thalq bin Habib Rahimahullah
seorang tabi'in, suatu ketika pernah menuturkan sebagaimana dinukil oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Fatawanya,
اَلتَّقْوَى: أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله ، تَرْجُو
رَحْمَة الله وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله ، تَخَافَ عَذَابَ
الله.
"Takwa adalah kamu
mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, kamu
mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah
berdasarkan cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah."
Demikianlah seharusnya yang
selalu ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim, sehingga akan membawa
dampak dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi yang istiqamah dan
iltizam (konsisten) terhadap agamanya sehingga pada akhirnya akan membentuk
keluarga dan komunitas masyarakat yang senantiasa berjalan di atas manhaj dan
jalan yang lurus. Dengan demikian, Allah Subhanahu Wata’ala akan memberikan
kehidupan yang baik di dunia serta memberikan balasan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah diperbuat di akhirat kelak sebagaimana yang telah Allah
Subhanahu Wata’ala janjikan.
Ajaran yang paling besar yang
dibawa oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah memperbaiki hati.
Maka tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki hati kecuali cara yang telah
ditempuh oleh beliau Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dengan demikian seseorang
akan memahami bahwa hatinya merupakan tempat bagi cahaya dan petunjuk Allah
Subhanahu Wata’ala, yang dengannya seseorang dapat mengenal Rabbnya, mengenal
nama-namaNya dan sifat-sifatNya, serta dapat menghayati ayat-ayat syar'iyah
Allah, dengannya seseorang dapat merenungkan ayat-ayat kauniyahNya serta
dengannya seseorang dapat menempuh perjalanan menuju akhirat, karena
sesungguhnya perjalanan menuju Allah Subhanahu Wata’ala adalah perjalanan hati
dan bukan perjalanan jasad.
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah
menuturkan di dalam salah satu kitab beliau, "Hati yang sehat, yaitu hati
yang selalu terjaga dari syirik, sifat dengki, iri hati, kikir, takabur, cinta
dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang akan menjauhkannya dari
Allah Subhanahu Wata’ala. Ia selamat dari setiap syubhat yang menghadangnya. Ia
terhindar dari intaian syahwat yang menentang jati dirinya, dan ia terbebas
dari segala keinginan yang akan menyesaki tujuannya. Ia akan terbebas dari
segala penghambat yang akan menghalanginya dari jalan Allah. Inilah hati yang
sehat di surga dunia dan surga di alam kubur, serta surga di Hari Kiamat.
Keselamatan hati tidak akan terwujud, kecuali dengan terjaga dari lima perkara,
yaitu syirik yang bertentangan dengan tauhid, dari bid'ah yang berhadapan
dengan sunnah, dari syahwat yang menghambat urusannya, dari ghaflah(kelalaian)
yang menghilangkan dzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dari hawa nafsu yang
akan menghalangi ikhlash." (al-Jawab al-Kafi, 1/176).
Ibnu Rajab al-Hanbali pernah
berkata, "Keutamaan itu tidak akan diraih dengan banyaknya amal jasmani,
akan tetapi diraih dengan ketulusan niat kepada Allah Subhanahu Wata’ala benar,
lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan banyaknya pengetahuan dan amalan
hati." (Mahajjah fi Sair ad-Daljah, hal. 52).
Ini semua menunjukkan bahwa
dasar keimanan atau kekufuran, hidayah atau kesesatan, keberuntungan atau
kenistaan tergantung pada apa yang tertanam di dalam hati seorang hamba.
Abu Hurairah pernah menuturkan,
bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلٰكِنْ
يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ، وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ.
"Sesungguhnya Allah tidak
melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia melihat
kepada hati kamu, kemudian menunjuk ke dadanya dengan telunjuknya." (HR.
Muslim, no. 2564).
Bahkan, mayoritas ulama
berkeyakinan bahwa siapa saja yang dipaksa untuk menyatakan
"kekufuran", maka ia tidak berdosa selagi hatinya masih tetap teguh
beriman kepada Islam dan tetap dalam kondisi tenang beriman, sebagaimana
FirmanNya :
مَن كَفَرَ بِا لله مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أًكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ
بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ
الله وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُ . ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
عَلَى اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ الله لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
"Barangsiapa yang kafir
kepada Allah sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali
orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia
tidak ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran,
maka kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang besar. Yang demikian
itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan
bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir." (An-Nahl:
106-107).
Ayat ini diturunkan, sebagaimana
pendapat mayoritas ahli tafsir adalah berkenaan dengan kejadian yang menimpa
Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk Islam, ia mendapat siksaan dari orang-orang
kafir Quraisy di Makkah sehingga ia mau mengucapkan kalimat kekufuran kepada
Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di lain
kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan kepada Rasu-lullah sambil menangis.
قَالَ: كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ قَالَ: مُطْمَئِنًّا بِالْإِيْمَانِ. قَالَ:
إِنْ عَادُوْا فَعُدْ.
"... maka Nabi bersabda,
'Bagaimana kondisi hatimu?' Ia menjawab, 'Aku masih tenang dalam beriman.' Maka
Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya kemudahan), 'Kalau mereka
kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi'." (HR. al-Hakim, 2/357).
Di dalam sebuah hadits yang
lain, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda sebagaimana yang telah
diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Anas bin Malik,
لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ.
"Iman seseorang tidak akan
lurus (benar) sebelum hatinya lurus." (HR. Ahmad, no. 13079).
Ma'asyiral Muslimin Sidang
Jum'ah Rahimakumullah
Demikian agungnya keutamaan dan
urgensi hati seseorang di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga kita dapat
mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam diucapkan
dengan ungkapan,
لَا، وَمُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ.
"Tidak, demi Dzat yang
membolak-balikkan hati."
Dan di antara doa beliau adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
"Ya Allah, Dzat yang
membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu."
Hal yang demikian, karena pada
dasarnya kadangkala hati seseorang bisa mengeras, seperti batu atau bahkan
lebih keras dari itu, sehingga ia akan jauh dari Allah Subhanahu Wata’ala,
rahmatNya, dan dari ketaatanNya. Dan sejauh-jauh hati dari Allah Subhanahu
Wata’ala adalah hati yang kasar, di mana peringatan tidak lagi bermanfaat
baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia lembut, perkataan tidak
menjadikannya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki hati yang demikian di
dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan manfaat apa-apa baginya, dan tidak
akan melahirkan sesuatu pun, kecuali kejahatan. Sebaliknya hati yang lembut,
yang takut dan tunduk merendahkan diri terhadap Penciptanya, Allah Subhanahu
Wata’ala, serta selalu mendekatkan diri kepadaNya, mengharapkan rahmatNya dan
menjaga ketaatanNya, maka pemiliknya akan mempunyai hati yang bersih, selalu
menerima kebaikan.
Maka dari itulah, Allah
Subhanahu Wata’ala menggarisbawahi bahwa keselamatan di Hari Kiamat kelak
sangat tergantung kepada keselamatan, kebersihan, dan kebaikan hati. Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman :
يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى ِالله بِقَلْبٍ
سَلِيم
"Di hari yang mana harta
dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah
dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara` : 88 - 89).
Dengan demikian, marilah kita bersungguh-sungguh
dalam menjaga hati dan senantiasa mengawasinya, di mana dan kapan saja
waktunya, karena ia satu-satunya anggota tubuh kita yang paling besar
bahayanya, paling mudah pengaruhnya, dan paling sulit mengurus dan
memperbaikinya. Wallahul musta'an.





0 komentar:
Post a Comment