Astrofotografi
Pengambilan citra langit dilakukan
dengan menggunakan camera DSLR (Digital Camera Single-Lens Refleks) adalah kamera
digital yang menggunakan Desain pantulan cahaya yang merupakan perbedaan
mendasar antara DSLR dan kamera digital pada umumnya, dimana kamera pada
umumnya fungsi sensor untuk menangkap cahaya (gambar) dari lensa akan bekerja
terus menerus dan diteruskan ke Liquid Crystal
Display (LCD) atau
elektronik viewfinder.[1]
Sedangkan pada DSLR gambar akan ditampilkan ke optical viewfinder hasil dari
cahaya yang dipantulkan melalui cermin dan pentaprism.[2]
Dalam hal ini berarti pada kamera biasa sensor akan bekerja terus menerus untuk
menampilkan gambar ke LCD atau elektronik viewfinder. Sedangkan pada DSLR
sensor akan bekerja hanya pada saat pengambilan foto saja. Tetapi dewasa ini
perkembangan live preview pada DSLR sudah memungkinkan seseorang untuk melihat
objek foto melalui LCD, walau dengan beberapa batasan-batasan yang dimilikinya.[3]
Camera DSLR sangat memungkinkan untuk menangkap citra langit di
sekitar titik matahari terbenam. Diantara kelebihan mendasar ketika pengambilan
citra dengan menggunakan kamera DSLR adalah karena DSLR bisa dilakukan setting
exposure timer otomatis (Djamaludin,2011).[4]
Variable yang memberi pengaruh terhadap pengambilan citra dalam instrumen
camera diantaranya:
1.
Setting ISO (sensitivitas cahaya)
Secara
definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya.
Semakin tinggi setting ISO maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya. Brata (2008:19) menjelaskan bahwa sensitifitas kamera digital diatur lewat
setelan standar ISO. ISO (International Organization for Standarization)
mengeluarkan standar untuk sensitifitas cahaya yang disebut ISO 5800. Jenis
setelan ISO pencahayaan standar adalah 100, 200, 400 dan 800. Pada camera
canggih, tersedia ISO 200 sampai 6400. ISO tinggi mampu menghasilkan gambar
yang sempurna dalam ruangan tertutup, namun
bisa menghasilkan efek negatif berupa noise (tampilan titik atau goresan pada
gabar).
Cavington (2007:21)
menambahkan bahwa sensitivitas cahaya pada sensor DLSR dapat di set ISO 100
sampai 1600 bahkan 6400. Normalnya orang sering menggunakan ISO 400, namun
untuk pencitraan objek samar bisa menggunakan ISO 800 atau 1600. Perlu diketahui bahwa pemakaian ISO yang
lebih rendah akan terlihat lebih baik dengan eksposure singkat dibanding dengan
eksposure yang lebih tinggi. Artinya, menangkap foto lebih banyak dan lebih
baik dari sekedar menguatkan sinyal dari yang sudah ada.
Dengan ISO yang lebih rendah akan didapatkan hasil dan warna yang lebih halus
dan sesuai kenyataan. Sedangkan ISO yang tinggi akan menghasilkan warna palsu
yang sudah bergeser dari warna sesungguhnya.[5]
2.
Pengaturan Exposure Time
Dalam fotografi exposure adalah jumlah total cahaya yang
dibiarkan jatuh pada media potografi (film fotografi) dan dapat dihitung dari
nilai eksposure (EV/Eksposure value) dan adegan pencahayaan diarea tertentu.
menurut rata (2008:16) exposure adalah jumlah cahaya yang masuk ke kamera yang
mempunyai efek terhadap foto yang dihasilkan. Pencahayaan berlebih akan
menyebabkan hasil foto Washet-out (lazim disebut dengan Over Eksposure / OE).
Dan pencahayaan kurang akan menyebabkan hasil foto gelap (Lazim disebut Under
eksposure/ UE)
3.
Pengaturan Aperture
Aperture atau bukaan rana merupakan lebarnya lubang yang dibuka
oleh kamera untuk mengizinkan cahaya masuk. Biasanya dengan angka f/stop.
Semakin besar angkanya semakin kecil bukannya. Aperture ini juga berkaitan dengan
DoF (Depth of Field) atau ruang tajam yang bisa di definisikan sebagai
ruangan di depan dan belakang obyek yang masih masuk dalam jangkauan fokus.
Apabila memotret di ruang yang intensitas cahaya rendah maka dept of file
disetting lebih lama atau besar dengan angka semakin kecil, dan sebaliknya
apabila memotret benda di ruang yang terang makan dept of file disetting lebih cepat. Karena itu biasa
ditulis sebagai penyebut pecahan seperti f/1.4, f/2, f/2.8, f/4, f/5.6, f/8,
f/11, f/16, f/22, dst (Brata, 2008:19).
Cavington (2007:56) mengatakan bahwa pada intinya aperture
berfungsi untuk memberi informasi seberapa banyak cahaya yang masuk, sedangkan
“Focal Lenght” berfungsi memberikan informasi seberapa banyak cahaya yang
ditampilkan dalam sensor kamera. Jika terdapat banyak cahaya yang masuk maka
informasi yang muncul adalah berupa nilai f-rationya rendah
dan hasil gambarnya pun cerah. Dengan rumus perbandingan bisa diperoleh dengan
cara: f ratio = Focal Leght/Aperture diameter.
4.
Pengaturan Shutter Speed
Secara definisi, shutter speed adalah rentang waktu
saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed berarti
waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Gampangnya
shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai
tombol ini kembali ke posisi semula.
Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam
beberapa penggunaannya di kamera:
·
Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera
anda berarti rentang waktu sebanyak 1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat
dan sekilat itu. Sementara untuk waktu eksposur sebanyak 30 detik, anda akan
melihat tulisan seperti ini: 30’’
·
Setting shutter speed di kamera anda biasanya
dalam kelipatan 2, jadi kita akan melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125,
1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop,
jadi kurang lebih pergerakan shutter speed yang lebih rapat; 1/500, 1/400,
1/320, 1/250, 1/200, 1/160 … dst.
·
Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan
shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting
shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga foto yang dihasilkan akan tajam
dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak fokus). Kita bisa
mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur Image
Stabilization.
·
Batas shutter speed yang aman lainnya adalah:
shutter speed kita harus lebih besar dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita
memakai lensa 50 mm, gunakan shutter minimal 1/60 detik. Jika kita memakai
lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.
·
Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan
shutter speed setinggi mungkin yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan.
Semakin cepat obyek bergerak yang ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin
cepat shutter speed yang dibutuhkan. Untuk membekukan gerakan burung yang
terbang misalnya, gunakan mode Shutter Priority dan set shutter speed di angka
1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto) supaya hasilnya tajam. Kalau
anda perhatikan, fotografer olahraga sangat mengidolakan mode S/Tv ini.
Namun
demikian, pencitraan kecerlangan langit di sekitar titik matahari terbenam bisa
dilakukan dengan kamera biasa, tetapi harus dari kejauhan. Lampu diperlukan
untuk kalibrasi fotometri dan rujukan posisi. Data mentah berupa citra tersebut
dalam bentuk JPG atau JPEG atau BP, sehingga ketika citra akan di olah ke dalam
software fotometri dipilih format JPG/JPEG/BMP[6] yang kemudian dilakuka pengolahan/analisis
Fotometri.
terima kasih kepada mereka yang telah memberikan photo menariknya... Wallahua'lam....








0 komentar:
Post a Comment