Merajuk Cita Penuh Asa Santri PBSB
Terlahir di sebuah
kota dengan julukan kota “ikhlas” tepatnya di sebuah desa yang bernama
Kendalsari Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang, tanggal 21 Juni 1990.
Melalui kasih sayang orang tua dan ridho Ilahi lahirlah sebuah bayi mungil buah
kasih sayang Marnoto dan Musrifatun bernama Sofwan Farohi.
Waktupun semakin
berlalu, hari demi hari bertambah menjadi bulan hingga akhirnya menjadi tahun,
beranjak dewasa seorang Sofwan Farohi menjadi seorang santri di sebuah Pondok
Pesantren Modern Al-Ikhlas, tepatnya di desa Babakan, Ciawilor, Ciawi Gebang
Kuningan Jawa Barat. Berlatar belakang pondok modern dengan didikan pesantren
yang berasaskan Tafaqquh Fiddin menjadikan Sofwan mengerti akan agama
walau hanya secuil.
Keinginan
belajarpun selalu di semangati dengan semangat “Where there is a will there
is a way” dimana ada kemauan pasti ada jalan. Dari sebuah kata bijak
tersebut, maka bangkitlah semangatnya untuk menjadi sebuah the agent of
change walau kendala ekonomi menghantui dalam pribadinya.
Sempat menjadi
“momok” yang menakutkan baginya bayangan kuliah untuk masa depannya, karena
melihat sisi belakang keluarganya yang tidak mampu, akan tetapi para asatidz
di pondoknya selalu menasehati dengan penuh semangat Man Yattaqillaha
Yaj’allahu Makhroja ( Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia
akan memudahkan baginya). Semangat yang telah diberikan oleh asatidznya
lah yang menjadikan ia bangkit dari sebuah mimpi buruk dalam kehidupanya, yaitu
bayangan menakutkan akan kuliah.
Berawal dari
sebuah keinginan tentang beasiswa untuk kuliah, ia bersikeras untuk
mendapatkannya, walau harapan itu tipis karena dalam bayanganya “santri kok
dapet beasiswa”. Niat itupun tak mudah surut karena ia membaca sebuah
pengalaman seorang sukses tidak semuanya menyenangkan, akan tetapi berawal dari
sebuah penderitaan yang mengujinya.
Tulisan-tulisan
motivasi selalu ia ingat, bahkan sampai ditulisnya disebuah lemari kecil wadah
buku dan bajunya. Tulisan itu tepatnya adalah “DO THE BEST BUT DON’T FEEL BE
THE BEST”. Manusia hanya orang yang berusaha, berkeluh kesah dan meminta, tapi
yang menentukan adalah Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang kepada
hamba-Nya yang mau berusaha.
Beranjak dari
sebuah pendidikan di SMP nya yang kurang ia gemari, dan termasuk golongan
orang-orang yang mempunyai predikat rendah. Ia bangkit dan berjuang melawan
ketakutannya setelah menjadi santri di pondok tersebut. Sebuah prestasi pertama
ia dapatkan adalah menjadi juara lomba pidato bahasa arab, padahal bukan sebuah
bakatnya untuk berpidato dan ia pun menjadi The Best Actor pada festival
lomba drama. Berbagai prestasi mulai ia dapatkan setelah menjadi no 1 di
kelasnya. Semangatnya pun bertambah ketika ia teringat sebuah nasehat dari Pa’e
(baca ayah) “ pa’e iku lulusan SD tapi pa’e ra seneng ana’e melu-melu
lulusan SD, kudu ana’e pa’e dadi wong seng sukses tapi sholeh, ileng karo wong
cilik lan iling maring Gusti Allah”[1].
Sebuah nasehat yang menjadi bom penyemangat dalam hidup dan pendidikan.
Singkat cerita
ketika terjadi pemilihan Ketua OPPM (Organisasi Pondok Pesantren Modern) ia
terpilih menjadi santri yang diamanahi sebagai Ketua OPPM. Hal yang sangat
tidak disangka, dari sebuah keluarga yang mempunyai ekonomi rendah, pendidikan
pun rendah tapi diamanati menjadi santri no 1 di Pondoknya. Sebuah kata bijak
bagi para pembaca yang akan menjadi/sedang menjadi pemimpin “JADILAH ORANG YANG
TERHORMAT,TAPI JANGAN GILA HORMAT, JADILAH MANUSIA YANG BERJASA, TAPI JANGAN
MINTA JASA”.
Akhir tahun di
sebuah lembaga pendidikan pesantren pun tiba, seluruh santri yang notabene
menjadi santri senior atau santri yang paling tinggi tingkatan kelasnya sibuk
mempersiapkan ujian kelulusan yang menjadi momen paling mengerikan, karena di
momen inilah santri diuji semua mata pelajaran yang telah ia dapatkan di
pesantren. Dan di momen inilah tingkat belajar harus extra. Tak ada kata selain
membaca dan belajar, hingga tertanam dalam dirinya “teman terbaik disaat duduk
adalah buku”.
Beralih cerita ke
sebuah inspirasi bagi para pelajar yang menginginkan kesuksesan. Saat itu
santri yang bernama Sofwan sedang duduk sembari menikmati sepiring nasi dan
lauknya. Terdengar suara dari belakang yang mengabarkan bahwa ia dipanggil
untuk menghadap Ustadz. Ia pun kaget dan berdoa agar tidak ada masalah dalam
dirinya karena dipanggil ustadznya.
Panggilan itupun
ia turuti dan bergegas menghadap ustadnya. Tak disangka dia dipanggil karena
sebuah surat yang datangnya dari Kementrian Agama. Penjelasan sang ustads pun
ia dengarkan dengan baik bahwa ia dijadikan sebagai santri yang mempunyai
kesempatan mengikuti seleksi penerimaan santri berprestasi (PBSB)
Mendapatkan amanah
tersebut bukanlah suatu kebanggan tersendiri baginya, karena amanah tersebut
bukanlah hal kecil yang bisa dinikmati dengan senang-sengan, tapi merupakkan
sebuah tanggung jawab besar sebagai santri yang siap menerima segala resiko dan
siap menjaga nama baik almameter maupun nama kementrian agama.
Setelah
mendapatkan kabar menjadi santri yang dapat mengikuti seleksi tersebut, maka
tindakan pertama yang dilakukan adalah meminta restu kepada orang tua. Karena
dalam pribadi santri pasti tertanam keridhoaan Allah terdapat pada kerodhoan
orang tua yan membuka jalan kepada kebaikan. Akhirnya orang tua pun sangat
mendukung dan mendoakan anaknya menjadi anak yang sholeh.
Kesempatan
tersebut tidaklah disia-siakan olehnya dia lakukan dalam kesehariannya dengan
belajar tekun dan penuh do’a. agar apa yang dijalaninya mendapatkan keberkahan
dengan tawakkal dan do’a yang dipanjatkan.
Hari semakin
berganti menjadi minggu dan tibalah suatu saat dimana seleksi itu dijalankan.
Doa restu orang tua mejadi senjata utama baginya dalam meraih kesuksesan tidak
lupa juga restu Kyai dan para guru yang menjadi rudal utama penyemangat baginya
dalam mengerjakan soal-soal seleksi.
Sebuah kata
penyemangat yang menjadi motivasi bagi dirinya dalam meraih kesuksesan sebagai
santri adalah mengikuti perintah dan nasihat Kyai dan bekerja ikhlas tanpa
pamrih.
Seleksi pun
berakhir di sore hari, seorang ustad menasihatinya dengan penuh keihlasan.
Berdoalah setiap hari sampai pengumuman, janganlah putus asa dalam berdoa,
karena sekali saja kamu putus asa maka akan menjadi sebuah kebiasaan. Nasihat
itu ia jalankan demi terlaksananya sebuah keridhoan Ilahi.
Mengingat
sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa kesuksesan merupakan kegagalan yang
berulang kali, karena di dalam sebuah kegagalan ada sebuah keberhasilan yang
dijalani. Dengan semangat dari sebuah kata bijak tersebut maka ia pun
bersemangat selalu berusaha berdoa untuk kesuksesannya dalam meraih beasiswa
santri berprestasi, karena satu tujuan yaitu belajar dan mengabdi.
Tiba
saat pengumuman penerimaan santri berprestasi kementrian agama, ada hal lucu
yang menjadi sebuah inspirasi bagi para insan pelajar yang haus akan ilmu pengetahuan.
Bahwa kekuatan doa dan keikhlasan serta kesungguhan adalah suatu senjata yang
ampuh dalam menggapai cita-cita yang diharapkan. Walau pada kenyataannya dalam
mengerjakan soal adalah dengan batas kemampuan seorang santri yang belum
menguasai pelajaran.
Alhamdulillah
gelar penerima beasiswa santri berprestasi pun ia dapatkan. Bertempat di IAIN
Walisongo Semarang dengan Jurusan Ahwal As-Syahsiyah Konsentrasi Ilmu falak.
Walau demikian usaha yang dikerjakan belumlah berhasil tanpa restu orang tua.
Semarang….??? Kota baru yang akan
aku jelajahi..
Ya inilah dengan saya Sofwan Farohi, di atas adalah gambaran dimana
saya mendapatkan beasiswa, bercerita tentang jerih payah dalam kehidupan pondok
pesantren. Sekarang secara pribadi saya akan menceritakan kisah perjalanan
hidup saya di Seamrang.
Jum’at, 07 Agustus
2009 hari pertama saya menginjakkan kaki di Semarang. Diantarkan oleh kakak
bernama Faza Muttaqin kami menjelajahi Semarang dengan penuh harapan. Setibanya
di Islamic Center saya bertemu dengan 2 orang lugu yang wajahnya tanpa dosa dan
penuh keceriaan. Saya mulai percakan:
Saya :Mas
santri penerima beasiswa ya????
Wahib :Iya.. kok
tahu???
Saya :Karena kau tlah menampakkan
wajah melas mas…. Hehehhehe garing!!!!!
Singkat cerita berkenalan dan mereka memperkenalkan diri sebagai
Muhammad Zainal Mawahib dan Muhammad Zainul Mustofa cah Demak sama Kudus.
Mereka berdua teman pertama saya di IC (Islamic Center).
Perjalanan di IC
adalah perjalanan orientasi seluruh mahasiswa PBSB di IAIN Walisongo. Teringat
sebuah kisah lucu yang kami jalani di sana. Banyak teman banyak pengalaman.
Cerita lucu bersama sahabat koclak saya bernama Tamhid Amri dan Afrizal
Muhammad Fauzi. Mereka orang yang konyol karena kebiasaan kita bersama
mengacaukan makan malam teman-teman. Pernah di suatu hari kami bertiga makan
terakhir berharap dapat menghabiskan makan sebanyak-banyak, tetapi hal tersebut
sangat mengejutkan kita. Setelah kita makan dan menghabiskan semua lauk enak
ternyata ada segerombolan cewek yang belum makan. Kami keteteran dan langsung
pulang membawa lauk yang kami makan untuk dijadikan cemilan. Memang aksi yang
konyol dari teman akrab yang konyol juga.
Kisah IC berlalu,
kini menjadi sebuah kisah awal perkuliahan. Di perkuliahan saya merasakan
seperti hal yang asing, karena belum pernah merasakan kebebasan antara pria dan
wanita bersamaan (maklum santrinya cowok semua) eh akhirnya menjadi biasa juga
dan malah mendapat sebutan bajol, hall yang menambah penalaman dan pengamalan.
Saya di Semarang
merupakan angkatan ke-3 untuk PBSB dan angkatan kami berjumlah 50 orang.
Terbanyak dan paling keren. Liburan semester 2 kami seangkatan pergi ke Pare
untuk belajar bahasa Inggris ( katanya sih) tapi nyatanya kita malah banyak
yang maen PS, termasuk saya bisa maen PS ya di Pare dan guru PS saya adalah
Syaikhuna Muhammad Safi’ul Anam (Nogo). Teima kasih guru. Tapi tidak menutup
kemungkinan kewajiban kita di sana adalah belajar bahasa.
EXACTLY adalah sebuah nama angkatan kita (2009) sebagai nama perekat yang
diusulkan oleh saudari Suryati ( nama keren Iun). Membuat kaos dan jalan-jalan
perekat keanggotaan adalah yang kami lakukan disaat mas libur belajar bahasa.
Maklum darah muda. Kisah cinta di satu angkatan pun ada di sela-sela asmara
pare. (nggak sah disebut).
Usai sudah kisah
Pare, sekarang kembali lagi ke Semarang menempuh perkuliahan lagi (BT). Kisah
kita jalani penuh kebersamaan dan kesedihan juga tentunya. Selama lebih satu
tahun kami tinggal di Semarang, tiba waktu kita diuji dengan kehilangan seorang
teman bernama Riska Sartika (Teh Riska) meninggal karena sakit yang diderita (Allahummghfirlaha)
teman baik dan pintar dalam hal matematika.
Ipenk (nama asli
Mu’arifah) adalah teman curhat saya dari golongan perempuan. Entah apa yang
membuatnya disebut perempuan atau setengah lelaki (hehehhe peace penk) karena
kepekaannya dalam bersahabat dan solidnya pertemanan maka dia menjadi salah
satu teman curhat saya di Exactly.
Haduuuh aku
bingung mau cerita apalagi, semua teman-teman Exactly the best for me lah
pokoke, semuanya mulai dari absen A sampai W. kalian teman hebat penuh
inspiratif dan penuh kekacauan candanya, mulai dari sok homo sampai sok jomblo
dan bahkan jomblo permanen.
Berbicara masalah
perasaaan, ada seorang gadis yang saya suka dari Exactlty (kalian tahu itu
*sensor*). Banyak cerita asmara di antara anggota Exactly semuanya keren lah
pokoknya, ada yang aneh-aneh pokoke the best. Ngaure!!! Untuk para sahabat
jomblo segerakan menentukan pilihan. Pilih jomblo, homo atau hobi.(pikiro
dewe). Umar Setiawan ndang mbojo (sebentar lagi genap 4 tahun *sensor*),
Offa ojo mikiri mantan terus!!!!!
Cerita ini mulai
ngawur dan akhirnya saya akhiri cerita
ini dengan kesan dan pesan…. For All Member of Exactly:
Ø Jaga kekompakan kita.
Ø Jaga silaturahim kita
Ø Jaga persaudaraan kita, jangan ada yang musuhan sesame saudara
(HARAM)
Ø Terus berkarya tataning bumi
Ø Ingat aku selalu yah…
Ø I love u Nila Tsuroyya eh maksudnya I love u semuanya Exactly…
Demikian cerita yang dapat saya
sampaikan dalam lika liku kehidupan menerima beasiswa sampai bertemu teman
Exactly, semuanya penuh kesan dan penuh persaudaraan. Terima kasih saudaraku,
terima kasih sahabat-sahabat sejatiku Exactly. Kita bersatu dalam perbedaan dan
berbagi dalam kebahagiaan, bersama dalam penderitaan dan mengasihi dalam kesadaran
persaudaraan.(efek belajar nulis makalah sok resmi)
Salam hormat untuk
Exactly,
22 Desember 2012 M
8 Shafar 1434 H
Sofwan Farohi
The BajolERS
Menyatu dalam pisah merangkai dalam ikatan you are Exactly.... Wallahua'lam..
[1]
Bapak itu lulusan SD, tapi bapak nggak suka kalo anak-anaknya ikut-ikutan
menjadi orang lulusan SD, harus menjadi orang yang sukses, tapi tetap sholeh,
ingat selalu sama orang kecil dan selalu ingat sama Allah.






0 komentar:
Post a Comment