Pages

Monday, 13 May 2013

Ceritaku Cerita Exactly "09


Merajuk Cita Penuh Asa Santri PBSB
            Terlahir di sebuah kota dengan julukan kota “ikhlas” tepatnya di sebuah desa yang bernama Kendalsari Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang, tanggal 21 Juni 1990. Melalui kasih sayang orang tua dan ridho Ilahi lahirlah sebuah bayi mungil buah kasih sayang Marnoto dan Musrifatun bernama Sofwan Farohi.
            Waktupun semakin berlalu, hari demi hari bertambah menjadi bulan hingga akhirnya menjadi tahun, beranjak dewasa seorang Sofwan Farohi menjadi seorang santri di sebuah Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlas, tepatnya di desa Babakan, Ciawilor, Ciawi Gebang Kuningan Jawa Barat. Berlatar belakang pondok modern dengan didikan pesantren yang berasaskan Tafaqquh Fiddin menjadikan Sofwan mengerti akan agama walau hanya secuil.
            Keinginan belajarpun selalu di semangati dengan semangat “Where there is a will there is a way” dimana ada kemauan pasti ada jalan. Dari sebuah kata bijak tersebut, maka bangkitlah semangatnya untuk menjadi sebuah the agent of change walau kendala ekonomi menghantui dalam pribadinya.
            Sempat menjadi “momok” yang menakutkan baginya bayangan kuliah untuk masa depannya, karena melihat sisi belakang keluarganya yang tidak mampu, akan tetapi para asatidz di pondoknya selalu menasehati dengan penuh semangat Man Yattaqillaha Yaj’allahu Makhroja ( Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan memudahkan baginya). Semangat yang telah diberikan oleh asatidznya lah yang menjadikan ia bangkit dari sebuah mimpi buruk dalam kehidupanya, yaitu bayangan menakutkan akan kuliah.
            Berawal dari sebuah keinginan tentang beasiswa untuk kuliah, ia bersikeras untuk mendapatkannya, walau harapan itu tipis karena dalam bayanganya “santri kok dapet beasiswa”. Niat itupun tak mudah surut karena ia membaca sebuah pengalaman seorang sukses tidak semuanya menyenangkan, akan tetapi berawal dari sebuah penderitaan yang mengujinya.
            Tulisan-tulisan motivasi selalu ia ingat, bahkan sampai ditulisnya disebuah lemari kecil wadah buku dan bajunya. Tulisan itu tepatnya adalah “DO THE BEST BUT DON’T FEEL BE THE BEST”. Manusia hanya orang yang berusaha, berkeluh kesah dan meminta, tapi yang menentukan adalah Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang kepada hamba-Nya yang mau berusaha.
            Beranjak dari sebuah pendidikan di SMP nya yang kurang ia gemari, dan termasuk golongan orang-orang yang mempunyai predikat rendah. Ia bangkit dan berjuang melawan ketakutannya setelah menjadi santri di pondok tersebut. Sebuah prestasi pertama ia dapatkan adalah menjadi juara lomba pidato bahasa arab, padahal bukan sebuah bakatnya untuk berpidato dan ia pun menjadi The Best Actor pada festival lomba drama. Berbagai prestasi mulai ia dapatkan setelah menjadi no 1 di kelasnya. Semangatnya pun bertambah ketika ia teringat sebuah nasehat dari Pa’e (baca ayah) “ pa’e iku lulusan SD tapi pa’e ra seneng ana’e melu-melu lulusan SD, kudu ana’e pa’e dadi wong seng sukses tapi sholeh, ileng karo wong cilik lan iling maring Gusti Allah”[1]. Sebuah nasehat yang menjadi bom penyemangat dalam hidup dan pendidikan.
            Singkat cerita ketika terjadi pemilihan Ketua OPPM (Organisasi Pondok Pesantren Modern) ia terpilih menjadi santri yang diamanahi sebagai Ketua OPPM. Hal yang sangat tidak disangka, dari sebuah keluarga yang mempunyai ekonomi rendah, pendidikan pun rendah tapi diamanati menjadi santri no 1 di Pondoknya. Sebuah kata bijak bagi para pembaca yang akan menjadi/sedang menjadi pemimpin “JADILAH ORANG YANG TERHORMAT,TAPI JANGAN GILA HORMAT, JADILAH MANUSIA YANG BERJASA, TAPI JANGAN MINTA JASA”.
            Akhir tahun di sebuah lembaga pendidikan pesantren pun tiba, seluruh santri yang notabene menjadi santri senior atau santri yang paling tinggi tingkatan kelasnya sibuk mempersiapkan ujian kelulusan yang menjadi momen paling mengerikan, karena di momen inilah santri diuji semua mata pelajaran yang telah ia dapatkan di pesantren. Dan di momen inilah tingkat belajar harus extra. Tak ada kata selain membaca dan belajar, hingga tertanam dalam dirinya “teman terbaik disaat duduk adalah buku”.
            Beralih cerita ke sebuah inspirasi bagi para pelajar yang menginginkan kesuksesan. Saat itu santri yang bernama Sofwan sedang duduk sembari menikmati sepiring nasi dan lauknya. Terdengar suara dari belakang yang mengabarkan bahwa ia dipanggil untuk menghadap Ustadz. Ia pun kaget dan berdoa agar tidak ada masalah dalam dirinya karena dipanggil ustadznya.
            Panggilan itupun ia turuti dan bergegas menghadap ustadnya. Tak disangka dia dipanggil karena sebuah surat yang datangnya dari Kementrian Agama. Penjelasan sang ustads pun ia dengarkan dengan baik bahwa ia dijadikan sebagai santri yang mempunyai kesempatan mengikuti seleksi penerimaan santri berprestasi (PBSB)
            Mendapatkan amanah tersebut bukanlah suatu kebanggan tersendiri baginya, karena amanah tersebut bukanlah hal kecil yang bisa dinikmati dengan senang-sengan, tapi merupakkan sebuah tanggung jawab besar sebagai santri yang siap menerima segala resiko dan siap menjaga nama baik almameter maupun nama kementrian agama.
            Setelah mendapatkan kabar menjadi santri yang dapat mengikuti seleksi tersebut, maka tindakan pertama yang dilakukan adalah meminta restu kepada orang tua. Karena dalam pribadi santri pasti tertanam keridhoaan Allah terdapat pada kerodhoan orang tua yan membuka jalan kepada kebaikan. Akhirnya orang tua pun sangat mendukung dan mendoakan anaknya menjadi anak yang sholeh.
            Kesempatan tersebut tidaklah disia-siakan olehnya dia lakukan dalam kesehariannya dengan belajar tekun dan penuh do’a. agar apa yang dijalaninya mendapatkan keberkahan dengan tawakkal dan do’a yang dipanjatkan.
            Hari semakin berganti menjadi minggu dan tibalah suatu saat dimana seleksi itu dijalankan. Doa restu orang tua mejadi senjata utama baginya dalam meraih kesuksesan tidak lupa juga restu Kyai dan para guru yang menjadi rudal utama penyemangat baginya dalam mengerjakan soal-soal seleksi.
            Sebuah kata penyemangat yang menjadi motivasi bagi dirinya dalam meraih kesuksesan sebagai santri adalah mengikuti perintah dan nasihat Kyai dan bekerja ikhlas tanpa pamrih.
            Seleksi pun berakhir di sore hari, seorang ustad menasihatinya dengan penuh keihlasan. Berdoalah setiap hari sampai pengumuman, janganlah putus asa dalam berdoa, karena sekali saja kamu putus asa maka akan menjadi sebuah kebiasaan. Nasihat itu ia jalankan demi terlaksananya sebuah keridhoan Ilahi.
            Mengingat sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa kesuksesan merupakan kegagalan yang berulang kali, karena di dalam sebuah kegagalan ada sebuah keberhasilan yang dijalani. Dengan semangat dari sebuah kata bijak tersebut maka ia pun bersemangat selalu berusaha berdoa untuk kesuksesannya dalam meraih beasiswa santri berprestasi, karena satu tujuan yaitu belajar dan mengabdi.
            Tiba saat pengumuman penerimaan santri berprestasi kementrian agama, ada hal lucu yang menjadi sebuah inspirasi bagi para insan pelajar yang haus akan ilmu pengetahuan. Bahwa kekuatan doa dan keikhlasan serta kesungguhan adalah suatu senjata yang ampuh dalam menggapai cita-cita yang diharapkan. Walau pada kenyataannya dalam mengerjakan soal adalah dengan batas kemampuan seorang santri yang belum menguasai pelajaran.
            Alhamdulillah gelar penerima beasiswa santri berprestasi pun ia dapatkan. Bertempat di IAIN Walisongo Semarang dengan Jurusan Ahwal As-Syahsiyah Konsentrasi Ilmu falak. Walau demikian usaha yang dikerjakan belumlah berhasil tanpa restu orang tua.
Semarang….??? Kota baru yang akan aku jelajahi..
            Ya inilah dengan saya Sofwan Farohi, di atas adalah gambaran dimana saya mendapatkan beasiswa, bercerita tentang jerih payah dalam kehidupan pondok pesantren. Sekarang secara pribadi saya akan menceritakan kisah perjalanan hidup saya di Seamrang.
            Jum’at, 07 Agustus 2009 hari pertama saya menginjakkan kaki di Semarang. Diantarkan oleh kakak bernama Faza Muttaqin kami menjelajahi Semarang dengan penuh harapan. Setibanya di Islamic Center saya bertemu dengan 2 orang lugu yang wajahnya tanpa dosa dan penuh keceriaan. Saya mulai percakan:
Saya                :Mas santri penerima beasiswa ya????
Wahib              :Iya.. kok tahu???
Saya                :Karena kau tlah menampakkan wajah melas mas…. Hehehhehe garing!!!!!
Singkat cerita berkenalan dan mereka memperkenalkan diri sebagai Muhammad Zainal Mawahib dan Muhammad Zainul Mustofa cah Demak sama Kudus. Mereka berdua teman pertama saya di IC (Islamic Center).
            Perjalanan di IC adalah perjalanan orientasi seluruh mahasiswa PBSB di IAIN Walisongo. Teringat sebuah kisah lucu yang kami jalani di sana. Banyak teman banyak pengalaman. Cerita lucu bersama sahabat koclak saya bernama Tamhid Amri dan Afrizal Muhammad Fauzi. Mereka orang yang konyol karena kebiasaan kita bersama mengacaukan makan malam teman-teman. Pernah di suatu hari kami bertiga makan terakhir berharap dapat menghabiskan makan sebanyak-banyak, tetapi hal tersebut sangat mengejutkan kita. Setelah kita makan dan menghabiskan semua lauk enak ternyata ada segerombolan cewek yang belum makan. Kami keteteran dan langsung pulang membawa lauk yang kami makan untuk dijadikan cemilan. Memang aksi yang konyol dari teman akrab yang konyol juga.
            Kisah IC berlalu, kini menjadi sebuah kisah awal perkuliahan. Di perkuliahan saya merasakan seperti hal yang asing, karena belum pernah merasakan kebebasan antara pria dan wanita bersamaan (maklum santrinya cowok semua) eh akhirnya menjadi biasa juga dan malah mendapat sebutan bajol, hall yang menambah penalaman dan pengamalan.
            Saya di Semarang merupakan angkatan ke-3 untuk PBSB dan angkatan kami berjumlah 50 orang. Terbanyak dan paling keren. Liburan semester 2 kami seangkatan pergi ke Pare untuk belajar bahasa Inggris ( katanya sih) tapi nyatanya kita malah banyak yang maen PS, termasuk saya bisa maen PS ya di Pare dan guru PS saya adalah Syaikhuna Muhammad Safi’ul Anam (Nogo). Teima kasih guru. Tapi tidak menutup kemungkinan kewajiban kita di sana adalah belajar bahasa.
            EXACTLY adalah sebuah nama angkatan kita (2009) sebagai nama perekat yang diusulkan oleh saudari Suryati ( nama keren Iun). Membuat kaos dan jalan-jalan perekat keanggotaan adalah yang kami lakukan disaat mas libur belajar bahasa. Maklum darah muda. Kisah cinta di satu angkatan pun ada di sela-sela asmara pare. (nggak sah disebut).
            Usai sudah kisah Pare, sekarang kembali lagi ke Semarang menempuh perkuliahan lagi (BT). Kisah kita jalani penuh kebersamaan dan kesedihan juga tentunya. Selama lebih satu tahun kami tinggal di Semarang, tiba waktu kita diuji dengan kehilangan seorang teman bernama Riska Sartika (Teh Riska) meninggal karena sakit yang diderita (Allahummghfirlaha) teman baik dan pintar dalam hal matematika.
            Ipenk (nama asli Mu’arifah) adalah teman curhat saya dari golongan perempuan. Entah apa yang membuatnya disebut perempuan atau setengah lelaki (hehehhe peace penk) karena kepekaannya dalam bersahabat dan solidnya pertemanan maka dia menjadi salah satu teman curhat saya di Exactly.
            Haduuuh aku bingung mau cerita apalagi, semua teman-teman Exactly the best for me lah pokoke, semuanya mulai dari absen A sampai W. kalian teman hebat penuh inspiratif dan penuh kekacauan candanya, mulai dari sok homo sampai sok jomblo dan bahkan jomblo permanen.
            Berbicara masalah perasaaan, ada seorang gadis yang saya suka dari Exactlty (kalian tahu itu *sensor*). Banyak cerita asmara di antara anggota Exactly semuanya keren lah pokoknya, ada yang aneh-aneh pokoke the best. Ngaure!!! Untuk para sahabat jomblo segerakan menentukan pilihan. Pilih jomblo, homo atau hobi.(pikiro dewe). Umar Setiawan ndang mbojo (sebentar lagi genap 4 tahun *sensor*), Offa ojo mikiri mantan terus!!!!!

            Cerita ini mulai ngawur dan akhirnya  saya akhiri cerita ini dengan kesan dan pesan…. For All Member of Exactly:
Ø  Jaga kekompakan kita.
Ø  Jaga silaturahim kita
Ø  Jaga persaudaraan kita, jangan ada yang musuhan sesame saudara (HARAM)
Ø  Terus berkarya tataning bumi
Ø  Ingat aku selalu yah…
Ø  I love u Nila Tsuroyya eh maksudnya I love u semuanya Exactly…

Demikian cerita yang dapat saya sampaikan dalam lika liku kehidupan menerima beasiswa sampai bertemu teman Exactly, semuanya penuh kesan dan penuh persaudaraan. Terima kasih saudaraku, terima kasih sahabat-sahabat sejatiku Exactly. Kita bersatu dalam perbedaan dan berbagi dalam kebahagiaan, bersama dalam penderitaan dan mengasihi dalam kesadaran persaudaraan.(efek belajar nulis makalah sok resmi)


            Salam hormat untuk Exactly,
 22 Desember 2012 M
8 Shafar 1434 H



Sofwan Farohi
The BajolERS

Menyatu dalam pisah merangkai dalam ikatan you are Exactly.... Wallahua'lam..


[1] Bapak itu lulusan SD, tapi bapak nggak suka kalo anak-anaknya ikut-ikutan menjadi orang lulusan SD, harus menjadi orang yang sukses, tapi tetap sholeh, ingat selalu sama orang kecil dan selalu ingat sama Allah.

0 komentar:

Post a Comment