Pages

Thursday, 23 May 2013

Atmosfer


A.    Atmosfer dan Kandungannya
1.      Pengertian Atmosfer
Lapisan udara yang melindungi bumi disebut atmosfer[1]. Atmosfer juga melindungi manusia dari sinar matahari dan meteor-meteor. Keberadaan atmosfer memperkecil perbedaan temperatur siang dan malam. Atmosfer yang menutupi bumi dan menjerat panas sehingga lebih lambat bergerak ke ruang angkasa dan mengurangi angin udara pada malam hari. Atmosfer bumi sangatlah berpengaruh bagi kehidupan manusia, selain sebagai pelindung bumi dari panasnya matahari, atmosfer juga mempunyai dampak negatif dalam kehidupan, terutama dalam hal pelaksaan rukyat al-hilal[2].
Atmosfer bumi merupakan selubung gas yang menyelimuti permukaan padat dan cair pada bumi. Selubung itu membentang ke atas (vertikal) sejauh beratus-ratus kilometer, dan akhirnya bertemu dengan medium antar planet yang berkerapatan rendah dalam sistem tata surya, yang sebaliknya dapat dianggap sebagai perluasan korona matahari[3].
Wilayah Indonesia dikenal dalam terminologi ilmu atmosfer dengan nama Benua Maritim (the Maritime Continent). Istilah ini pertama kali dikemukakan  oleh  Ramage  (1968)  yang  menunjukkan  luasnya  wilayah Indonesia seperti benua, tetapi didominasi oleh air (laut), dan juga dibatasi oleh dua samudera (Hindia dan Pasifik) serta dua benua Asia di utara dan Australia di selatan. Dengan kondisi seperti itu, maka atmosfer di sebagian besar  wilayah  Indonesia  relatif  basah  hampir  sepanjang  tahun,  akibat banyaknya kandungan uap air yang terbentuk, sehingga mempermudah terbentuknya kumpulan awan-awan  kumulonimbus  (Cb)  yang  dikenal dengan  istilah  Super  Cloud  Cluster (SCC)  yang  menunjukkan  besarnya perubahan  energi  yang  terjadi  sebagai  dasar  penggerak  dari  sirkulasi permukaan bumi secara keseluruhan (global circulation). Energi inilah yang menggerakan faktor-faktor pengendali sistem iklim di wilayah Indonesia dan sekitarnya.[4]
2.      Komposisi Atmosfer
Bumi merupakan salah satu planet yang ada di tata surya yang memiliki selubung yang berlapis-lapis. Selubung bumi tersebut berupa lapisan udara yang sering disebut dengan atmosfer. Atmosfer terdiri atas bermacam-macam unsur gas dan di dalamnya terjadi proses pembentukan dan perubahan cuaca dan iklim. Atmosfer melindungi manusia dari sinar matahari yang berlebihan dan meteor-meteor yang ada. Adanya atmosfer bumi memperkecil perbedaan temperatur siang dan malam.
Atmosfer penting bagi kehidupan di bumi, karena tanpa atmosfer maka manusia, hewan, dan tumbuhan tidak dapat hidup. Atmosfer juga bertindak sebagai pelindung kehidupan di bumi dari radiasi matahari yang kuat pada siang hari dan mencegah hilangnya panas ke ruang angkasa pada malam hari[5].
Atmosfer adalah lapisan gas atau campuran gas yang menyelimuti dan terikat pada bumi oleh gaya gravitasi bumi. Campuran gas ini dinamakan udara[6]. Udara adalah campuran berbagai unsur dan senyawa kimia. Beberapa ahli filsafat Yunani dahulu menganggap bahwa udara merupakan unsur utama, terdiri dari zat dasar yang tak dapat dibagi lagi menjadi unsur pokok yang merupakan usul semua benda[7].
Atmosfer terisi oleh partikel-partikel halus dan ringan dari tiga kelompok bahan yakni gas (udara kering dan uap air), cairan (butir-butir air atau awan) dan aerosol (bahan pada debu) ketiga bahan tersebut memiliki massa yang berbeda satu sama lain dan tersebar dalam berbagai ketinggian yang membentuk susunan yang mirip pengendapan di atmosfer. Partikel yang ringan berada di atas partikel yang berat sehingga semakin mendekati permukaan bumi jadi kerapatan partikel di atmosfer meningkat.
Proses pendinginan dan pemanasan bumi berubah menurut waktu dan tempat sehingga perubahan atmosfer pun akan berubah. Akibatnya, tekanan dan kerapatan serta lapisan atmosfer berbeda-beda antara siang dan malam baik musim dingin maupun di musim panas. Serta di daerah perairan atau daratan dan dataran rendah maupun tinggi[8].
Atmosfer terdiri dari 3 macam partikel halus dan ringan diantaranya adalah udara kering, uap air dan aerosol.
1.      Udara Kering
Pada lapisan atmosfer terkandung berbagi macam gas berdasarkan volumenya, ini merupakan kandungan dalam udara kering, udara kering mencakup 96% dari volume atmosfer, sedangkan gas yang paling dominan pada lapisan atmosfer adalah nitrogen berkisar 78%.
GAS
LAMBANG
VOLUME
Nitrogen
N2
78.08
Oksigen
O2
20.95
Argon
Ar
0.93
Karbondioksida
CO2
0.0340
Neon
Ne
0.0018
Helium
He
0.00052
Ozon
O3
0.00006
Hydrogen
H2
0.00005
Krypton
Kr
0.00011
Metan
CH4
0.00015
Xenon
Xe
Kecil sekali
Tabel 3.1. Komposisi rata-rata udara kering[9].
      
Dari tabel di atas di atas dapat dilihat bahwa prosentase nitrogen dan oksigen sudah meliputi 99.03% dari udara kering. Sedangkan komposisi lainnya hanya sebagian kecil, walaupun kecil tetapi komposisi lain berguna dalam kehidupan di bumi seperti ozon dan kaarbon dioksida.
Berikut gas yang bermanfaat bagi kehidupan di bumi melalui atmosfer:
a.       Nitrogen
Nitrogen yang masuk ke dalam atmosfer berasal dari peluruhan sisa-sisa hasil pertanian dan letusan gunung berapi, sedangkan pengeluaran nitrogen dari atmosfer disebabkan oleh proses biologis dalam tumbuh-tumbuhan dan kehidupan di laut. Nitrogen akan dibentuk menjadi nitrogen oksida oleh petir dan oleh pembakaran suhu tinggi di dalam mesin kendaraan bermotor dan pesawat terbang. Sehingga kadar nitrogen menjadi konstan.

b.      Oksigen
Oksigen dihasilkan dari proses fotosintesis pada tumbuhan. Pada proses ini dedaunan menyerap karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen. Oksigen diambil dari atmosfer melalui proses pernafasan manusia, dan juga proses peluruhan bahan organik.
c.       Ozon
Ozon adalah lapisan gas yang molekulnya terdiri dari tiga atom oksigen. Keberadaan oksigen sangat penting dalam kehidupan walaupun volemenya di atmosfer sedikit. Ozon berasal dari terbelahnya molekul oksigen di bawah pengaruh radiasi ultraviolet menjadi atom oksigen, atom oksigen hasil belahan ini masing-masing kemudian bertumbukan dan bergabung dengan molekul oksigen lain membentuk ozon.
Senyawa yang mencemari atmosfer dan merupakan akibat aktivitas manusia adalah klorofluorokarbon (chlorofluorocarbon, CFC). Senyawa ini merupakan penyebab utama penipisan lapisan ozon.[10]
d.      Karbondioksida
Karbon dioksida yang masuk ke dalam atmosfer berasal dari proses alami maupun buatan. Proses alami berasal dari pernafasan manusia dan peluruhan bahan organik sedangkan buatan berasal dari pembakaran hutan maupun asap pabrik. Sedangkan kandungan karbondioksida yang paling banyak dikeluarkan atmosfer adalah melalui fotosintesis yaitu 30% dari  karbon dioksida di dunia tiap tahun.[11]
2.      Uap Air
Kandungan uap air yang berada di atmosfer mudah berubah menurut arah (vertical horizontal) maupun waktu[12]. Kandungan uap air ini bergantung pada kandungan air di permukaan bumi. Uap air pada atmosfer berasal dari kondensasi air dalam bentuk hujan atau melalui curahan lain. Uap air di atmosfer dapat menyerap radiasi matahari maupun radiasi bumi sehingga berpengaruh terhadap suhu udara.[13]
3.      Aerosol
Aerosol adalah pertikel yang ukurannya lebih besar dari molekul, cukup kecil sehingga bisa melayang di dalam atmosfer. Partikel ini dapat berupa padat dan cair, misalkan debu, garam laut, sulfat dan nitral[14].
Komposisi normal aerosol di atmosfer terdiri dari;
Debu                     20% (daerah kering)
Kristal garam         40% (pecahan ombak lautan)
Asap                      05% (cerobong pabrik, pembakaran)
Lain-lain                25% (mikro organisme)
Ketinggian jelajah aerosol dan periode keberadaannya di atmosfer tergantung pada massanya, pemanasan dan pendinginan di permukaan bumi, serta angin.[15]
3.      Struktur dan Lapisan Atmosfer
Gejala yang terjadi di atmosfer sangat banyak dan beragam. Pada lapisan bawah angin berhembus, angin terbentuk, hujan dan salju jatuh, dan terjadilah musim panas dan musim dingin. Semua ini merupakan gejala yang lazim terjadi yang sering disebut cuaca. Atmosfer bumi merupakan selubung gas yang menyelimuti permukaan padat dan cair pada bumi. Selubung ini membentang ke atas sejauh beratus-ratus kilometer, dan akhirnya bertemu dengan medium antar planet yang berkerapatan rendah dalam sistem tata surya. Atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi.
Atmosfer bumi dapat dibagi menjadi beberapa lapisan, pembagian lapisan atmosfer dilakukan berdasarkan variasi suhu vertikal[16]. Di Bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan Bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap[17]
Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, sehingga dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang atmosfer beserta fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya.
Adapun lapisan-lapisan Atmosfer adalah sebagai berikut :
1.      Troposfer
Lapisan ini berada pada level yang terendah, campuran gasnya paling ideal untuk menopang kehidupan di bumi. Dalam lapisan ini kehidupan terlindung dari sengatan radiasi yang dipancarkan oleh benda-benda langit lain. Dibandingkan dengan lapisan atmosfer yang lain, lapisan ini adalah yang paling tipis (kurang lebih 15 kilometer dari permukaan tanah). Dalam lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin, tekanan dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung. Suhu udara pada permukaan air laut sekitar 27 derajat Celsius, dan semakin naik ke atas, suhu semakin turun dengan laju penurunan sebesar 6,5º C tiap kilometer. Sehingga setiap kenaikan 100 m suhu berkurang 0,61 derajat Celsius (sesuai dengan Teori Braak). Pada lapisan ini terjadi peristiwa cuaca seperti hujan, angin, musim salju, kemarau, dan sebagainya. Lapisan inilah yang menopang kehidupan manusia.[18]
2.      Stratosfer
Perubahan secara bertahap dari troposfer ke stratosfer dimulai dari ketinggian sekitar 11 km. Suhu di lapisan stratosfer yang paling bawah relatif stabil dan sangat dingin yaitu -70° F atau sekitar -57° C  Pada lapisan ini angin yang sangat kencang terjadi dengan pola aliran yang tertentu. Lapisan ini juga merupakan tempat terbangnya pesawat. Awan tinggi jenis cirrus kadang-kadang terjadi di lapisan paling bawah, namun tidak ada pola cuaca yang signifikan yang terjadi pada lapisan ini. Lapisan ini banyak mengandung ozon walaupun kadar ozon di atmosfer hanya berkisar 6 x 10-7, walaupun hanya sebagian kecil namun peranan ozon sangat penting yaitu melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet.[19]
3.      Mesosfer
Lapisan udara ketiga, di mana suhu atmosfer akan berkurang dengan pertambahan ketinggian hingga lapisan keempat. Udara yang di sini akan mengakibatkan pergeseran berlaku dengan objek yang datang dari angkasa dan menghasilkan suhu yang tinggi. Kebanyakan meteor yang sampai ke bumi terbakar lapisan ini. Kurang lebih 25 mil atau 40km ( 50-80 km) di atas permukaan bumi, saat suhunya berkurang dari 290 K hingga 200 K, terdapat lapisan transisi menuju lapisan mesosfer. Pada lapisan ini, suhu kembali turun ketika ketinggian bertambah, hingga menjadi sekitar -143° C (dekat bagian atas dari lapisan ini, yaitu kurang lebih 81 km di atas permukaan bumi).[20]
4.      Termosfer
Transisi dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 81 km. lapisan ini berada di atas mesopause sampai pada ketinggian 650 km. lapisan ini terkadang dinamai ionosfer, karena pada lapisan ini gas-gas akan mengalami ionisasi. Dinamai termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 1982° C. Perubahan ini terjadi karena serapan radiasi sinar ultra violet. Radiasi ini menyebabkan reaksi kimia sehingga membentuk lapisan bermuatan listrik yang dikenal dengan nama ionosfer, yang dapat memantulkan gelombang radio. Sebelum munculnya era satelit, lapisan ini berguna untuk membantu memancarkan gelombang radio jarak jauh[21].
5.      Eksosfer[22]
Eksosfer adalah lapisan bumi yang terletak paling luar. Pada lapisan ini terdapat refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh partikel debu meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan tersebut juga dikenal sebagai cahaya Zodiakal.



                [1] Atau dalam bahasa arab disebut sebagai jaw yang diartikan sebagai angkasa. Diartikan sebagai lapisan gas penyelubung suatu benda langit. Lihat Muhyddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, Jogjakarta: Buana Pustaka, 2005, cet ke-I hlm. 40
                [2] Usaha melihat aatau mengamati hilal di tempat terbuka dengan mata bugil atau peralatan pada sesaat matahari terbenam menjelang bulan baru kamariah. Apabila hilal bisa dilihat maka malam itu dan keesokan harinya tanggal satu untuk bulan berikutnya. Apabila hilal tidak berhasil dilihat, maka malam itu dan keesokan harinya merupakan hari ke 30 untuk bulan yang sedang berlangsung. Lihat Muhyddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, op. cit. hlm. 69
[3] Morris Neiburger, Understanding our Atmospheric environment, Ardina Purbo. “Memahami Lingkungan Atmosfer Kita”, Bandung: ITB Bandung, 1995, Edisi II, hlm. 30.
                                [4] Sri Woro B. Harijono, Analisis Dinamika Atmosfer Di Bagian Utara Ekuator Sumatera Pada Saat Peristiwa El-Nino Dan Dipole Mode Positif Terjadi Bersamaan, Jakarta: Badan Meterorologi dan Geofisika (BMG), Jurnal Sains Dirgantara, vol 5, no 2, 2008. Hlm. 131-132.
[5] Bayong Tjasyono, Ilmu Kebumian dan Antariksa, cet. III Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009 Hlm. 115
[6]  Susilo Prawirowardoyo, Meteorologi, Bandung: Penerbit ITB, 1996, hlm. 1
[7] Morris Neiburger, loc.cit. Edisi II
[8] Handoko (ed), Klimatologi Dasar, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1995, Edisi kedua, hlm. 13
[9] Susilo Prawirowardoyo, op. cit., hlm, 1.
[10] Benyamin lakitan, Dasar-dasar Klimatologi, Jakarta: Rajawali Pers, 1994, hlm. 9.
[11] Susilo Prawirowardoyo, op. cit., hlm, 3.
[12]  Handoko, op. cit., hlm 15.
[13] Susilo Prawirowardoyo, op. cit., hlm, 4.
[14] ibid
[15] Handoko, op.cit., hlm. 16
[16] Morris Neburger, op.cit. hlm. 33.
[17]  Benyamin Lakitan, op.cit. hlm.10
[18] Susilo Prawirowardoyao,op.cit., hlm. 5
[19] Handoko, op.cit., hlm. 20
[20] Morris Neburger, op.cit. hlm. 34.
[21] Benyamin Lakitan, op.cit., hlm. 11-12.
[22] Ibid, hlm. 12.

0 komentar:

Post a Comment