Pages

Tuesday, 21 May 2013

SALMAN INGIN PUNYA SEPEDA (cerpen)

SALMAN INGIN PUNYA SEPEDA
Oleh: Rizal Mubit
Indonesia sedang mengalami krisis moneter. Ibukota menjadi pusat demonstrasi besar dan penjarahan terhadap etnis China. Memang kerusuhan tak sampai ke desa-desa namun dampak kenaikan harga bisa dirasakan seluruh masyarakat Indonesia. Termasuk keluarga miskin Salman yang tinggal di pelosok desa. Padahal saat itu Salman kecil ingin sekali beli sepeda mini.
“Ayo ke pasar, Bu. Aku mau sepeda seperti yang ada tivi, Bu.” Salman merengek.
 “Ya, nanti kalau pekerjaan Ibu sudah beres.” kata Ibu.
 “Bu! Ayo sekarang, Bu!!” Salman masih merengek.”besok sekolah masuk, Mak! Aku ndak bisa ke pasar!
“Ealah, Cung. . . .Cung!! Sepeda apa to?” kata Ibu dengan nada meninggi.
“Itu loh Bu. Sepeda seperti di tivi. Aku kemarin melihatnya di tivinya Heri. Teman-teman sudah banyak yang punya. Cuma aku yang belum, Bu!
“Kubilang nanti ya nanti!!! Ke pasar itu harus bawa duit, Cung! Ndak lihat kalau Ibu masih njahit? Ini nyari duit buatmu juga!!! Anak kok dibilangin ndak bisa, heh!” Ibu yang kelelahan karena jahitan merasa terganggu rengekan Salman. Akhirnya dia marah.
Salman menangis. Dia berlari ke kamar tidurnya sambil terisak. Sedang Ibu masih melanjutkan jahitan pesanan baju seragam anak-anak tetangganya.
Ayah Salman datang dari sawah. Tahu anaknya nangis karena rewel minta dibelikan sepeda, bukannya malah diminta diam atau dimanja Salman malah dihajar dengan sandal.
“Bocah kok isone nangis!!! Minta dibeliin sepeda ya yang sabar. Namanya orang tua, pasti ingin membahagiakan anaknya. Tapi kalau ndak ada uang? Apa yang dipakai, heh?” Ayah memukuli kaki Salman dengan sandal. Salman sIbuin keras menangis.
Lelah mengangis, Salman tertidur. Dia masih terisak dan baru terbangun ketika jam satu siang. Matanya masih terlihat bekas tangisan.
Ayah dan Ibunya sudah tak marah lagi. Orang tuanya memang mudah marah saat anaknya rewel minta beli ini itu. Tapi itu semua adalah wujud kasih sayang yang sama sekali belum bisa dipahami anak seusia Salman.
“Wes tangi, Man? Ndang makan dulu terus mandi.” kata Ibu.
“Nggeh, Bu.
“Ibu sama Ayah mau ke tambak makani ikan. Ini duitnya buat sangu ngaji.” Ibu memberi uang seratus rupiah kepada Eko. Waktu itu, seratus rupiah cukup untuk beli satu es dan satu jajan.
“Nggeh.”
Ketika ngaji, Salman bertemu teman-temannya lagi. Tak ayal, ia melihat sepeda teman-temannya yang diparkir di depan musholla. Keinginannya pun kembali lagi. Tapi dia tak ingin kejadian pagi tadi terulang.
***
Tiap pagi Salman berangkat sekolah jalan kaki. Rumahnya lumayan jauh. Pagi itu, Bu Astutik guru Bahasa kelas tiga, tak sengaja melihat Salman jalan kaki.
“Ayo saya bonceng, Man!” ajak Bu Astutik.
Salman naik boncengan sepeda kumbang Bu Astutik. Dalam perjalanan menuju sekolah, Bu Guru menanayi Salman kenapa tak sekolah naik sepeda. Salman pun menceritakan kisah keluarganya yang tak mau membelikannya.
“Kamu nabung saja, Man. Buat beli sepeda. Nanti kamu bantuin ibu jualan es lilin di sekolah. Ada upahnya. Kumpulkan uangmu kalau nanti sudah terkumpul baru beli sepeda. Bagaimana?”
“Iya, Bu. Saya mau. Saya mau jualan Es Lilin. Temanku juga ada yang jualan Es Lilin kalau ngaji.”
Sehari setelahnya Salman mulai menjual Es Lilin. Tiap pagi Salman yang masih kelas tiga SD harus mampir ke rumah Bu Astutik untuk mengambil setremos es lilin.

Salman menjualnya saat istirahat sekolah dengan duduk di depan kelas menunggui tremos berisi es Lilin. Tak pernah ia pergi ke kantin sekolah untuk njajan. Bahkan saat teman-temannya bermain bola pun, ia tetap duduk khusyuk sendirian. Keinginannya untuk membeli sepeda mampu mengurangi kemauannya untuk bermain. Meski demikian, prestasinya tak pernah menurun. Setiap ulangan, ia tetap mendapat nilai yang terbaik.
Sehari, dua hari, seminggu hingga berbulan-bulan Salman menjual Es lilin tanpa diketahui ayah dan ibunya. Ia tak memberi tahu mereka karena takut dimarahi. Setiap hari es lilin yang dijual Salman tak pasti habis. Kadang sisa lima, dua, tiga dan pernah sampai sembilan. Bagaimanapun hasilnya bu Astutik masih memberinya upah seribu rupiah tiap hari. Uang itu ia kumpulkan dalam celengan berbentuk kendi. Menabung dalam celengan adalah salah satu hal yang menyenangkan anak seusia Salman apalagi kalau sudah waktunya memecah celengan.
Suasana perpolitikan di Indonesia semakin memanas. Soeharto mengundurkan diri digantikan wakilnya Habibi. Namun para demonstran masih turun jalan. Mereka tak setuju Habibi jadi presiden. Demonstrasi di ibu kota kembali ricuh.
Suasana hiruk pikuk kota tak mempengaruhi hiruk-pikuk desa Salman. Para warga desa beraktifitas seperti biasa. Tak yang berubah di sana walau presiden sudah ganti. Salman juga masih sekolah dan jualan es lilin seperti biasa. Siang itu ia setor hasil jualannya pada Bu Astutik.
“Kok esnya masih banyak, Man??” tanya Bu Astutik.
“Iya, Bu. Mungkin karena musim hujan. Teman-teman malas minum es.”
“Ya sudah. Kamu tadi sudah ngambil?”
Salman menggeleng.
“Kamu kalau mau esnya, ambil saja.” ujar Bu Astutik sambil menyodorkan uang recehan. Bu Astutik berkali-kali mengatakannya tapi ia tak mau mengambilnya. Ia lebih suka jika esnya terjual.
“Oh iya, Bu. Nanti siang kelas empat sampai kelas enam ada pramuka. Esnya masih ada, Bu?” tanya Salman.
“Masih. Mau jualan lagi?”
“Nggeh.”
“Kalau begitu nanti habis jum'atan saya siapkan esnya.”
“Nggeh, Bu.”
Salman ingin cepat-cepat punya sepeda walau harus rela menghabiskan waktu dengan menghabiskan es lilin. Celengan Salman terus bertambah meski tak disertai pertumbuhan fisiknya. Ia tetaplah Salman yang pendek, berkulit hitam dan berambut kriwul. Namun ia tak pernah minder. Malah dia terobsesi bisa seperti Presiden barunya, Pak Habibi yang juga berfisik pendek.
“Biar kecil, yang penting otak semua. Dari pada besar tapi tak ada isinya.” begitulah kalimat yang sering dilontarkan Salman jika ada teman atau tetangga mengejeknya.
Di kelas, Salman memang selalu jadi yang terbaik. Tiap ujian catur wulan, dialah yang mendapat peringkat pertama. Ia memang diberi kecerdasan yang cemerlang sejak kecil mengalahkan teman-temannya yang kaya.
Tak sampai setahun, celengan Salman penuh. Saat dipecah, hasilnya sudah lebih dari cukup untuk membeli sepeda mini. Ia sangat senang. Kini ia berani mengajak ibunya pergi ke pasar.
“Ayo ke pasar, Bu. Aku mau beli sepeda, Bu. Celenganku sudah cukup buat beli sepeda. Biar nanti waktu adik lahir, aku bisa mengajaknya bersepeda.”
Ibu tak heran dengan uang yang dimiliki anaknya. Diam-diam ibu diberi tahu oleh Bu Astutik tentang es lilin yang dijual Salman. Ibu juga tahu tahu sejak lama Salman suka menabung. Bahkan celengan kendi itu, ibunya yang membeli sebelum Salman jualan es lilin agar Salman rajin menabung.
“Adik kapan lahir, Bu?” tanya Salman.
“Insya Allah sebentar lagi, Man. Mau adik laki-laki atau perempuan?”
“Em. . . . . laki-laki atau perempuan ya bu? Em. . . . . terserah Bu yang penting punya adik Salman sudah senang.” ucap Salman.
“Anak pintar. Ya sudah kalau bgitu hari minggu kita ke pasar.”
 Sejak hari itu Salman sangat senang. Ia tak lagi sedih karena tak punya sepeda. Ia juga bilang ke ayahnya kalau uang celengannya sudah cukup untuk beli sepeda. Ayah sangat sengan mendengarnya. Salman juga senang karena sebentar lagi anggota keluarganya bertambah. Ia segera memiliki adik. Tidak semua temannya yang punya adik. Salman semakin semangat menjual es lilin.
***
Hari Minggu tiba. Salman dan ibunya pergi ke pasar naik becak. Kandungan ibu sudah besar dan fisiknya mulai lemah. Demi anaknya, ibu tetap berangkat ke pasar menemani Salman beli sepeda.
Jarak pasar dan rumah Salman sekitar dua kilometer. Melihat Salman yang riang, ibu jadi ikut bersemangat. Setelah sampai di pasar, Salman turun lebih dulu disusul ibu. Ketika turun dari becak, ibu kesulitan karena kandungan. Kakinya keseleo.
Bluk. . .
Ibu terjatuh tubuhnya menyentuh tanah. “Ah. . . aduh. . .” 
Salman yang sudah turun lebih dulu, mencoba menolong ibu tapi tak bisa. Tukang becak ikut membantu. Ketika ibu berhasil berdiri, darah mengalir ke kaki. Ibu panik. Salman yang melihatnya terlihat lebih panik.
“Pak. Tolong, Pak. . . . aduh. . .” Ibu merintih memegangi perutnya.
Salman menangis, menjerit.
“Ibu. . . . ibu kenapa, Bu?” terik Salman panik.
Beberapa orang yang melihat, mendekat dan membantu ibu. Salman membawa tas ibu yang berisi uang.
“Ayo cepat bawa ke puskesmas, Pak.” teriak seorang lelaki.
“Ibu. . . . . .” rengek Salman. Ia menangis.
Ibu dibawa ke puskesmas dekat pasar. Dua orang perawat segera menangani ibu. Salman menangis di puskesmas sedang tukang becak tadi pulang memberi kabar kepada ayah. Tiga puluh menit kemudian ayah datang dengan wajah panik kebingungan.
Ayah langsung memeluk Salman yang masih menangis.
“Ibumu tak apa-apa, Nak. Ibu baik-baik saja. Sudah jangan menangis!” ucap Ayah.
Sesaat kemudian, ayah dipanggil oleh petugas rumah sakit. Ia diberitahu bahwa ibu harus dibawa ke rumah sakit kota. Kalau tidak, bisa membahayakan kandungan.
“Ya, Bu. Bawa ke rumah sakit sekarang, Pak. Yang penting istri dan anakku selamat.” kata ayah.
Sebuah mobil ambulan membawa ibu ke rumah sakit kota bersama ayah dan Salman yang masih terisak menangis.
“Salman ndak boleh nangis. Ibu baik-baik saja. Sebentar lagi Salman akan punya adik. Diam ya! Nanti kalau nangis, adiknya malah ikut nangis.” ucap ibu seraya memaksakan diri tersenyum.
Tangisan Salman mereda. Ayah juga tak panik lagi.
Sesampai di rumah sakit, ibu ditangani secara profesional. Ayah dan Salman ke ruang administrasi menanyakan biaya rumah sakit yang akan ditanggung. Setelah berbincang dengan orang rumah sakit, ayah mulai panik lagi.
“Ibumu tadi bawa uang berapa, Nak?” kata ayah sambil memegangi dua pundak Salman.
“Ada banyak, Yah. Ini uang yang mau dibuat beli sepeda tadi.” jawab Salman.
Ayah mengelus rambut Salman.
“Agar adikmu lahir, ibu harus bayar biaya rumah sakit, Nak. Ayah tak ada uang.” mata ayah berkaca-kaca.
Salman melirik tas ibu yang berisi uang. Ia masih memeganginya. Berat rasanya menyerahkan uang itu. Salman terbayang sepeda, Bu Astutik, es lilin, celengan kendi, waktu jualan es, termos es lilin dan semua usahanya untuk mengumpulkan uang.
“Ya sudah kalau Salman keberatan. Nanti ayah pinjam uang Pakdemu saja.” ucap ayah menenangkan Salman.
“Ndak, Yah,” Salman menyerahkan tasnya kepada ayah,”pakai uangku saja ndak apa. Nanti aku nabung lagi yang penting adik selamat. Aku memilih adik dan ibu dari pada sepeda.” dengan berat hati Salman memberikan uang kepada ayah.
“Salman. . . . Salman anakku. Maafkan ayah, Nak.” Bapak memeluk Salman. Air matanya tak dapat ditahan lagi.
Uang itu akhirnya digunakan untuk biaya persalinan ibu. meski tidak semuanya, sisanya hanya cukup untuk beli celengan kendi. Namun Salman tetap senang sebab ia punya adik perempuan baru yang cantik dan lucu. Air mata kesedihan terhapus dengan kehadiran anggota keluarga baru.
Hari berikutnya Salman menceritakan apa yang terjadi kemarin pada Bu Astutik. Ia jualan es lilin lagi dan menabung agar bisa beli sepeda baru. Bahkan ia lebih bersemangat lagi karena mendapat dukungan dari ayahnya. Meski harus menunggu lama, hampir setahun kemudian, Salman bisa beli sepeda yang telah lama diidam-idamkannya.

Sumber, 21 Mei 2013

0 komentar:

Post a Comment