SALMAN INGIN PUNYA SEPEDA
Oleh: Rizal Mubit
Indonesia sedang mengalami krisis moneter.
Ibukota menjadi pusat demonstrasi besar dan penjarahan terhadap etnis China.
Memang kerusuhan tak sampai ke desa-desa namun dampak kenaikan harga bisa
dirasakan seluruh masyarakat Indonesia. Termasuk keluarga miskin Salman yang
tinggal di pelosok desa. Padahal saat itu Salman kecil ingin sekali beli sepeda
mini.
“Ayo ke
pasar, Bu. Aku mau sepeda seperti yang ada tivi, Bu.” Salman merengek.
“Ya, nanti kalau pekerjaan Ibu sudah beres.”
kata Ibu.
“Bu! Ayo sekarang, Bu!!” Salman masih merengek.”besok sekolah masuk,
Mak! Aku ndak bisa ke pasar!”
“Ealah, Cung.
. . .Cung!! Sepeda apa to?” kata Ibu dengan nada meninggi.
“Itu loh Bu. Sepeda seperti di tivi. Aku kemarin melihatnya di tivinya Heri. Teman-teman sudah banyak yang punya. Cuma aku yang
belum, Bu!”
“Kubilang
nanti ya nanti!!! Ke pasar itu harus bawa duit, Cung! Ndak lihat kalau Ibu
masih njahit? Ini nyari duit buatmu juga!!! Anak kok dibilangin ndak bisa,
heh!” Ibu yang kelelahan karena jahitan merasa terganggu rengekan Salman. Akhirnya dia marah.
Salman menangis. Dia berlari ke
kamar tidurnya sambil terisak. Sedang
Ibu masih melanjutkan jahitan pesanan baju seragam anak-anak tetangganya.
Ayah Salman datang dari sawah. Tahu
anaknya nangis karena rewel minta dibelikan sepeda, bukannya malah diminta diam atau dimanja Salman malah dihajar dengan sandal.
“Bocah
kok isone nangis!!! Minta dibeliin sepeda ya yang sabar. Namanya orang tua, pasti ingin membahagiakan
anaknya. Tapi kalau ndak ada uang? Apa yang dipakai, heh?” Ayah memukuli kaki Salman dengan sandal. Salman sIbuin keras menangis.
Lelah mengangis, Salman tertidur. Dia masih terisak dan baru
terbangun ketika jam satu
siang. Matanya masih terlihat
bekas tangisan.
Ayah dan
Ibunya sudah tak marah lagi. Orang tuanya memang mudah marah saat anaknya rewel
minta beli ini itu. Tapi itu semua adalah wujud kasih sayang yang sama sekali belum bisa dipahami anak
seusia Salman.
“Wes
tangi, Man? Ndang
makan dulu terus mandi.” kata Ibu.
“Nggeh, Bu.”
“Ibu
sama Ayah mau ke tambak makani ikan. Ini duitnya buat sangu ngaji.” Ibu memberi
uang seratus rupiah kepada
Eko. Waktu itu, seratus rupiah cukup untuk beli satu
es dan satu jajan.
“Nggeh.”
Ketika
ngaji, Salman bertemu teman-temannya
lagi. Tak ayal, ia melihat sepeda
teman-temannya yang diparkir di depan musholla. Keinginannya pun kembali lagi.
Tapi dia tak ingin kejadian
pagi tadi terulang.
***
Tiap pagi Salman berangkat sekolah jalan kaki. Rumahnya
lumayan jauh. Pagi itu, Bu Astutik guru Bahasa kelas tiga, tak sengaja melihat
Salman jalan kaki.
“Ayo saya bonceng, Man!” ajak Bu Astutik.
Salman naik boncengan sepeda kumbang Bu Astutik. Dalam
perjalanan menuju sekolah, Bu Guru menanayi Salman kenapa tak sekolah naik
sepeda. Salman pun menceritakan kisah keluarganya yang tak mau membelikannya.
“Kamu nabung saja, Man. Buat beli sepeda. Nanti kamu
bantuin ibu jualan es lilin di sekolah. Ada upahnya. Kumpulkan uangmu kalau
nanti sudah terkumpul baru beli sepeda. Bagaimana?”
“Iya, Bu. Saya mau. Saya mau jualan Es Lilin. Temanku
juga ada yang jualan Es Lilin kalau ngaji.”
Sehari setelahnya Salman mulai menjual Es Lilin. Tiap
pagi Salman yang masih kelas tiga SD harus mampir ke rumah Bu Astutik untuk mengambil setremos es lilin.
Salman menjualnya saat istirahat sekolah dengan duduk di depan kelas menunggui tremos
berisi es Lilin. Tak
pernah ia pergi ke kantin sekolah untuk njajan. Bahkan saat teman-temannya
bermain bola pun, ia tetap duduk khusyuk sendirian. Keinginannya untuk membeli sepeda mampu mengurangi
kemauannya untuk bermain. Meski demikian,
prestasinya tak pernah menurun. Setiap ulangan, ia tetap
mendapat nilai yang terbaik.
Sehari, dua hari, seminggu hingga berbulan-bulan Salman
menjual Es lilin tanpa diketahui ayah dan ibunya. Ia tak memberi tahu
mereka karena takut dimarahi. Setiap hari es lilin yang dijual Salman tak pasti habis. Kadang
sisa lima, dua, tiga dan pernah sampai sembilan. Bagaimanapun hasilnya bu
Astutik masih memberinya upah seribu rupiah tiap hari. Uang itu ia kumpulkan
dalam celengan berbentuk kendi. Menabung dalam celengan adalah salah satu hal
yang menyenangkan anak seusia Salman apalagi
kalau sudah waktunya memecah celengan.
Suasana perpolitikan di Indonesia semakin
memanas. Soeharto mengundurkan diri digantikan wakilnya Habibi. Namun para
demonstran masih turun jalan. Mereka tak setuju Habibi jadi presiden.
Demonstrasi di ibu kota kembali ricuh.
Suasana hiruk pikuk kota tak mempengaruhi
hiruk-pikuk desa Salman. Para warga desa beraktifitas seperti biasa. Tak yang
berubah di sana walau presiden sudah ganti. Salman juga masih sekolah dan
jualan es lilin seperti biasa. Siang itu ia setor hasil jualannya pada Bu
Astutik.
“Kok esnya masih banyak, Man??” tanya Bu
Astutik.
“Iya, Bu. Mungkin karena musim hujan.
Teman-teman malas minum es.”
“Ya sudah. Kamu tadi sudah ngambil?”
Salman menggeleng.
“Kamu kalau mau esnya, ambil saja.” ujar Bu
Astutik sambil menyodorkan uang recehan. Bu Astutik berkali-kali mengatakannya
tapi ia tak mau mengambilnya. Ia lebih suka jika esnya terjual.
“Oh iya, Bu. Nanti siang kelas empat sampai
kelas enam ada pramuka. Esnya masih ada, Bu?” tanya Salman.
“Masih. Mau jualan lagi?”
“Nggeh.”
“Kalau begitu nanti habis jum'atan saya siapkan
esnya.”
“Nggeh, Bu.”
Salman ingin cepat-cepat punya sepeda walau harus rela
menghabiskan waktu dengan menghabiskan es lilin. Celengan Salman terus bertambah meski tak disertai pertumbuhan
fisiknya. Ia tetaplah Salman yang
pendek, berkulit hitam dan berambut kriwul. Namun ia tak pernah minder. Malah dia
terobsesi bisa seperti Presiden barunya, Pak Habibi yang juga berfisik pendek.
“Biar kecil, yang penting otak semua. Dari pada
besar tapi tak ada isinya.” begitulah kalimat yang sering dilontarkan Salman
jika ada teman atau tetangga mengejeknya.
Di kelas, Salman memang selalu jadi yang terbaik. Tiap
ujian catur wulan, dialah yang mendapat peringkat pertama. Ia memang diberi
kecerdasan yang cemerlang sejak kecil mengalahkan teman-temannya yang kaya.
Tak sampai setahun, celengan Salman penuh. Saat dipecah,
hasilnya sudah lebih dari cukup untuk membeli sepeda mini. Ia sangat senang.
Kini ia berani mengajak ibunya pergi ke pasar.
“Ayo ke pasar, Bu. Aku mau beli sepeda, Bu. Celenganku
sudah cukup buat beli sepeda. Biar nanti waktu adik lahir, aku bisa mengajaknya
bersepeda.”
Ibu tak heran dengan uang yang dimiliki anaknya.
Diam-diam ibu diberi tahu oleh Bu Astutik tentang es lilin yang dijual Salman.
Ibu juga tahu tahu sejak lama Salman suka menabung. Bahkan celengan kendi itu,
ibunya yang membeli sebelum Salman jualan es lilin agar Salman rajin menabung.
“Adik kapan lahir, Bu?” tanya Salman.
“Insya Allah sebentar lagi, Man. Mau adik laki-laki atau
perempuan?”
“Em. . . . . laki-laki atau perempuan ya bu? Em. . . . .
terserah Bu yang penting punya adik Salman sudah senang.” ucap Salman.
“Anak pintar. Ya sudah kalau bgitu hari minggu kita ke
pasar.”
Sejak hari itu
Salman sangat senang. Ia tak lagi sedih karena tak punya sepeda. Ia juga bilang
ke ayahnya kalau uang celengannya sudah cukup untuk beli sepeda. Ayah sangat
sengan mendengarnya. Salman juga senang karena sebentar lagi anggota
keluarganya bertambah. Ia segera memiliki adik. Tidak semua temannya yang punya
adik. Salman semakin semangat menjual es lilin.
***
Hari Minggu tiba. Salman dan ibunya pergi ke pasar naik
becak. Kandungan ibu sudah besar dan fisiknya mulai lemah. Demi anaknya, ibu
tetap berangkat ke pasar menemani Salman beli sepeda.
Jarak pasar dan rumah Salman sekitar dua kilometer.
Melihat Salman yang riang, ibu jadi ikut bersemangat. Setelah sampai di pasar,
Salman turun lebih dulu disusul ibu. Ketika turun dari becak, ibu kesulitan
karena kandungan. Kakinya keseleo.
Bluk. . .
Ibu terjatuh tubuhnya menyentuh tanah. “Ah. . . aduh. .
.”
Salman yang sudah turun lebih dulu, mencoba menolong ibu
tapi tak bisa. Tukang becak ikut membantu. Ketika ibu berhasil berdiri, darah
mengalir ke kaki. Ibu panik. Salman yang melihatnya terlihat lebih panik.
“Pak. Tolong, Pak. . . . aduh. . .” Ibu merintih
memegangi perutnya.
Salman menangis, menjerit.
“Ibu. . . . ibu kenapa, Bu?” terik Salman panik.
Beberapa orang yang melihat, mendekat dan membantu ibu.
Salman membawa tas ibu yang berisi uang.
“Ayo cepat bawa ke puskesmas, Pak.” teriak seorang
lelaki.
“Ibu. . . . . .” rengek Salman. Ia menangis.
Ibu dibawa ke puskesmas dekat pasar. Dua orang perawat
segera menangani ibu. Salman menangis di puskesmas sedang tukang becak tadi
pulang memberi kabar kepada ayah. Tiga puluh menit kemudian ayah datang dengan
wajah panik kebingungan.
Ayah langsung memeluk Salman yang masih menangis.
“Ibumu tak apa-apa, Nak. Ibu baik-baik saja. Sudah jangan
menangis!” ucap Ayah.
Sesaat kemudian, ayah dipanggil oleh petugas rumah sakit.
Ia diberitahu bahwa ibu harus dibawa ke rumah sakit kota. Kalau tidak, bisa
membahayakan kandungan.
“Ya, Bu. Bawa ke rumah sakit sekarang, Pak. Yang penting
istri dan anakku selamat.” kata ayah.
Sebuah mobil ambulan membawa ibu ke rumah sakit kota
bersama ayah dan Salman yang masih terisak menangis.
“Salman ndak boleh nangis. Ibu baik-baik saja. Sebentar
lagi Salman akan punya adik. Diam ya! Nanti kalau nangis, adiknya malah ikut
nangis.” ucap ibu seraya memaksakan diri tersenyum.
Tangisan Salman mereda. Ayah juga tak panik lagi.
Sesampai di rumah sakit, ibu ditangani secara
profesional. Ayah dan Salman ke ruang administrasi menanyakan biaya rumah sakit
yang akan ditanggung. Setelah berbincang dengan orang rumah sakit, ayah mulai
panik lagi.
“Ibumu tadi bawa uang berapa, Nak?” kata ayah sambil
memegangi dua pundak Salman.
“Ada banyak, Yah. Ini uang yang mau dibuat beli sepeda
tadi.” jawab Salman.
Ayah mengelus rambut Salman.
“Agar adikmu lahir, ibu harus bayar biaya rumah sakit,
Nak. Ayah tak ada uang.” mata ayah berkaca-kaca.
Salman melirik tas ibu yang berisi uang. Ia masih
memeganginya. Berat rasanya menyerahkan uang itu. Salman terbayang sepeda, Bu
Astutik, es lilin, celengan kendi, waktu jualan es, termos es lilin dan semua
usahanya untuk mengumpulkan uang.
“Ya sudah kalau Salman keberatan. Nanti ayah pinjam uang
Pakdemu saja.” ucap ayah menenangkan Salman.
“Ndak, Yah,” Salman menyerahkan tasnya kepada ayah,”pakai
uangku saja ndak apa. Nanti aku nabung lagi yang penting adik selamat. Aku
memilih adik dan ibu dari pada sepeda.” dengan berat hati Salman memberikan
uang kepada ayah.
“Salman. . . . Salman anakku. Maafkan ayah, Nak.” Bapak
memeluk Salman. Air matanya tak dapat ditahan lagi.
Uang itu akhirnya digunakan untuk biaya persalinan ibu.
meski tidak semuanya, sisanya hanya cukup untuk beli celengan kendi. Namun
Salman tetap senang sebab ia punya adik perempuan baru yang cantik dan lucu. Air
mata kesedihan terhapus dengan kehadiran anggota keluarga baru.
Hari berikutnya Salman menceritakan apa yang terjadi
kemarin pada Bu Astutik. Ia jualan es lilin lagi dan menabung agar bisa beli
sepeda baru. Bahkan ia lebih bersemangat lagi karena mendapat dukungan dari
ayahnya. Meski harus menunggu lama, hampir setahun kemudian, Salman bisa beli
sepeda yang telah lama diidam-idamkannya.
Sumber, 21 Mei 2013






0 komentar:
Post a Comment