Bulan Mei di Jawa Tengah tahun 2013 adalah
bulan pesta politik, mengapa demikian? Karena di bulan ini persaingan politik
lewat pilkada akan di gelar, manuver politik untuk memenangkan eksistensi diri
diperjuangkan dengan janji-janji dan kampanye yang mengatasnamakan aspirasi
rakyat dan demokrasi. Padahal sejatinya para elit politik belum mengerti arti
demokrasi di dalam hidupnya. Terbukti dengan banyak kasus yang terjadi di
kalangan rakyat yang mengatasnamakan demokrasi padahal sejatinya hanyalah
manufer untuk mencari nama demi kemenangan yang dicapai. Secara teori demokrasi
bisa diartikan sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara dalam upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Pengertian di atas adalah pengertian yang
secara teoritis setiap orang bisa menghafalkanya, akan tetapi jika diimplementasikan
dalam kehidupan hanya manusia pilihan yang bisa. Sebenarnya alam banyak
mengajarkan kepada manusia akan arti demokrasi, seperti pembahasan kali ini
saya akan membahas dan belajar tentang hewan yang mempunyai demokrasi tinggi
yaitu “Kecoak”.
Kasus kecoak mencuat di Universitas Belgia,
para ahli Biologi dari Fakultas Sains menemukan hasil menakjubkan tentang kecoak.
Pola hidup kecoak layaknya kehidupan hewan yang berkelompok. Binantang ini
bergerak begitu cepat dan terorganisir dengan baik dan arahnya sukar untuk
dipahami. Penelitian tersebut membuktikan, bahwa kecoak dalam menentukan
keputusan bersama dengan cara menyentuh antena atau bulu panjang kawannya
dengan gerak cepat.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap 50
kecoak yang dimasukkan ke dalam ruang kaca besar yang tertutup gelap. Karean kecoak
biasa hidup di tempat-tempat yang gelap. Lalu dimasukkan tiga buah replika
pondokan ke dalam ruangan itu. Setelah masing-masing kecoak menyentuh antena
kecoak yang lain dengan cepat, semua masuk ke dalam satu pondokan terterntu. Sedangkan
kedua replika pondokan lainnya dibiarkan kosong. Penelitian kedua kemudian
dilakukan kembali untuk membuktikan apakah kecoak akan masuk dan mengisi kedua
tempat kosong itu. Penelitian kedua dilakukan dengan mengambil komunitas kecoak
yang baru. Setelah saling kontak antara satu dan yang lainnya, sekumpulan
kecoak inipun memilih masuk ke satu tempat dan membiarkan kedua replika
pondokan lainnya kosong.
Tingkah laku kecoak membuat para pakar
terheran dan kagum, sehingga mereka menggelar penelitian ketiga, dan langsung
memasukan sekumpulan kecoak ke dalam ruangan kaca yang di dalamnya terdapat dua
buah replika kosong. Kecoak-kecoak itu lalu masuk ke dalam satu replika saja
dan membiarkan yang satunya kosong. Penelitian ini membuktikan bahwa binatang
ini mempunyai kesepakatan bersama untuk menghargai dan menghormati milik orang
lain.
Budaya musyawarah dan mufakat ini juga
diterapkan dalam dunia bintang yang lainnya, seperti semut, lebah, serigala,
kerbau, ikan yang hidup dengan gerakan yang harmonis di dalam air. Ini membuktikan
bahwa penerapan demokrasi dan musyawarah adalah wajar dan merupakan insting
atau fitrah bagi hewan dan binatang.
Manusia seharusnya belajar dari penelitian
ini, kerbau dan kecoak dari jaman dahulu sudah mempraktikkan dan terus
konsisten menerapkan hidup berdemokrasi, saling menerima pendapat, bermufakat,
menghormati hak-hak orang lain dan mendengarkan aspirasinya. Sebaliknya banyak
komunitas manusia yang tidak mampu menerapkan dan membangun kehidupan dalam
bingkai nilai-nilai demokratis sebagai prinsip kehidupan. Padahal secara
substantif manusia adalah makhluk yang istimewa dengan diberikannya akal. Tetapi
terkadang dengan akalnya manusia bertindak layaknya binantang dan mengingkari
fitrahnya dalam hati nuraninya.
Semoga dengan pelajaran yang dipetik dari
KECOAK ini dapat mengingatkan kita semua baik dari elemen pemerintah untuk
mengakkan segi-segi demokrasi yang adil, aspiratif dan pro-rakyat. Amien. Wallahua’lam.....
Diambil dari sebuah kisah dalam buku karya
Mahmud Khalifah, Belajar dari Ayat-ayat Allah yang Tersirat, Jakarta:
Pustaka al-Fadilah, hlm. 119-120.







0 komentar:
Post a Comment