Pages

Thursday, 16 May 2013

Pacaran dan Kedewasaan Mahasiswa


Pacaran dan Kedewasaan Mahasiswa
Oleh Moh Salapudin
Mahasiswa Prodi Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Walisongo

Siapa sih yang tidak kenal dengan istilah pacaran? Kita tidak tahu siapa yang memopulerkannya, namunistilah ini sudah sangat familiar di telinga kita, bahkan sejak kita duduk di bangku SMP.
Di kalangan pemuda-pemudi, pacaran seolah menjadi ‘bagian tak terpisahkan’ dalam kehidupan sehari-harinya.Popularitas pacaran sebagai gaya hidup (life style) anak muda menjadi kian menggurita manakala publik selalu dicekoki ‘suguhan pacaran’ dalam berbagai tayangan sinetron. Cerpen dan novel pun tak mau kalah ambil peran. Hal ini menjadi wajar karena ‘bumbu pacaran’ menjadikan ‘barang jajanan’ mereka marketable.
Lalu bagaimana dengan mahasiswa? Berdasarkan fakta di lapangan, tren pacaran di kalangan mahasiswajuga cukup populer. Apalagi, mereka menjadi subjek aktif kehidupan yang penuh dengan heterogenitas pacaran. Kebebasan berperilaku yang diberikan dosen dan orang tuanya juga menyumbang insentif pada pola pikir mereka untuk bergaya hidup sesukanya.
Meskipun demikian, mahasiswa yang kontra terhadap pacaran juga ada. Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang bersikeras mengejar prestasi akademik sembari mematri kuat-kuat dalam benaknya bahwa pacaran tak ada gunanya. Dalam tataran praktek yang lebih tragis, mereka terkesan menutup diri dari lawan jenis. Mahasiswa kontrapacaran juga terdiri dari mereka yang pernah merasakan sakitnya ‘luka pacaran’ dalam kehidupan masa lalunya. Mereka terlanjur ‘trauma’ dengan luka itu, dan tidak ingin merasakannya lagi.
Menguji Kedewasaan
Mahasiswa adalah masyarakat terpelajar yang sudah ‘dianggap’ dewasa. Baik dosen maupun orang tua, keduanya cenderung lepas tangan terhadap aktifitas keseharian mahasiswa. Mereka sudah yakin bahwa anaknya mampu memilah dan memilih mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkankarena telah memperoleh kematangan berpikir. Sebagai manusia yang sudah dianggap dewasa, kebebasan adalah konsekuensi logis untuk seorang mahasiswa, termasuk kebebasan berpacaran.
Sejak peluit pertama pertandingan antara mahasiswa versus pacaran dibunyikan, uji kedewasaan mahasiswa sudah dimulai.Pada saat itu, pergumulan batin mahasiswa antara memilih jalan berpacaran atau tidak terus berseteru. Dalam konteks ini, seharusnya mahasiswa memakai pola pikir jangka panjang. Mereka harus menakar baik-buruk keputusannya untuk kehidupannya nanti. Jangan sampai mereka memutuskan untuk berpacaran, jika hal itu akan mengganggu prioritas pekerjaannya, yakni menuntut ilmu.
Jikalau keputusan mahasiswa jatuh pada pacaran, uji kedewasaan pun masih berlangsung, bahkan dengan pergolakan yang lebih dahsyat. Yang paling dasar adalah bagaiamana mereka memaknai pacaran itu sendiri. Karena pemakanaan ini akan mempengaruhi mahasiswa dalam menjaga atau melanggar ‘kode etik pacaran’.
Mahasiswa yang memaknainya sebagai pengikat tali kasih akan sangat berbeda dengan mereka yang menganggap pacaran sekadar sensasi yang musti dicoba selagi masih muda. Kelompok pertama akan menjaga perasaan satu sama lain untuk tidak menyakiti. Sebaliknya, kelompok kedua tidak serius dalam menapaki jalan pacaran dan cenderung gonta-ganti pacar. Sejatinya, yang paling dikhawatirkan dari kelompok ini adalah jika mereka menjadikan pacaran sebagai pemuas nafsu dengan dalih cinta.
Sulit membuktikan bahwa pacaran tak seburuk anggapan publik karena realitas berkata demikian. Sesulit meyakinkan masyarakat bahwa politik bukanlah sesuatu yang kejam nan kotor. Banyak aktor pacaran yang tersandung kasus hamil di luar nikah. Sebanyak para politisi yang tersandung kasus korupsi, suap, mark up, dan kejahatan politik lainnya.
Maka, satu-satunya harapan di tengah arus globalisasi yang menempatkan pacaran sebagai tren yang ‘sulit dihindari’ adalah kedewasaan. Kedewasaan berpikir adalah penunjuk arah yang tepat bagi mahasiswa yang melakukan rihlah pacaran. Jika ‘kendaraan pacaran’ mereka tersesat di tengah jalan dan hendak masuk jurang, maka penunujuk arah ini yang akan menunjukkan ke jalur yang benar. 

2 komentar:

  1. hhmmm. . . . gtu yaaa..?? asal tidak melanggar syariah aja... hehe

    ReplyDelete