Pacaran dan Kedewasaan Mahasiswa
Oleh
Moh Salapudin
Mahasiswa
Prodi Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Walisongo
Siapa
sih yang tidak kenal dengan istilah pacaran? Kita tidak tahu siapa yang memopulerkannya,
namunistilah ini sudah sangat familiar di telinga kita, bahkan sejak kita duduk
di bangku SMP.
Di
kalangan pemuda-pemudi, pacaran seolah menjadi ‘bagian tak terpisahkan’ dalam
kehidupan sehari-harinya.Popularitas pacaran sebagai gaya hidup (life style)
anak muda menjadi kian menggurita manakala publik selalu dicekoki ‘suguhan
pacaran’ dalam berbagai tayangan sinetron. Cerpen dan novel pun tak mau kalah
ambil peran. Hal ini menjadi wajar karena ‘bumbu pacaran’ menjadikan ‘barang
jajanan’ mereka marketable.
Lalu
bagaimana dengan mahasiswa? Berdasarkan fakta di lapangan, tren pacaran di
kalangan mahasiswajuga cukup populer. Apalagi, mereka menjadi subjek aktif
kehidupan yang penuh dengan heterogenitas pacaran. Kebebasan berperilaku yang
diberikan dosen dan orang tuanya juga menyumbang insentif pada pola pikir
mereka untuk bergaya hidup sesukanya.
Meskipun
demikian, mahasiswa yang kontra terhadap pacaran juga ada. Kelompok ini terdiri
dari orang-orang yang bersikeras mengejar prestasi akademik sembari mematri
kuat-kuat dalam benaknya bahwa pacaran tak ada gunanya. Dalam tataran praktek
yang lebih tragis, mereka terkesan menutup diri dari lawan jenis. Mahasiswa kontrapacaran
juga terdiri dari mereka yang pernah merasakan sakitnya ‘luka pacaran’ dalam
kehidupan masa lalunya. Mereka terlanjur ‘trauma’ dengan luka itu, dan tidak
ingin merasakannya lagi.
Menguji Kedewasaan
Mahasiswa
adalah masyarakat terpelajar yang sudah ‘dianggap’ dewasa. Baik dosen maupun
orang tua, keduanya cenderung lepas tangan terhadap aktifitas keseharian
mahasiswa. Mereka sudah yakin bahwa anaknya mampu memilah dan memilih mana yang
harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkankarena telah memperoleh
kematangan berpikir. Sebagai manusia yang sudah dianggap dewasa, kebebasan
adalah konsekuensi logis untuk seorang mahasiswa, termasuk kebebasan
berpacaran.
Sejak
peluit pertama pertandingan antara mahasiswa versus pacaran dibunyikan, uji
kedewasaan mahasiswa sudah dimulai.Pada saat itu, pergumulan batin mahasiswa
antara memilih jalan berpacaran atau tidak terus berseteru. Dalam konteks ini,
seharusnya mahasiswa memakai pola pikir jangka panjang. Mereka harus menakar
baik-buruk keputusannya untuk kehidupannya nanti. Jangan sampai mereka
memutuskan untuk berpacaran, jika hal itu akan mengganggu prioritas
pekerjaannya, yakni menuntut ilmu.
Jikalau
keputusan mahasiswa jatuh pada pacaran, uji kedewasaan pun masih berlangsung,
bahkan dengan pergolakan yang lebih dahsyat. Yang paling dasar adalah
bagaiamana mereka memaknai pacaran itu sendiri. Karena pemakanaan ini akan
mempengaruhi mahasiswa dalam menjaga atau melanggar ‘kode etik pacaran’.
Mahasiswa
yang memaknainya sebagai pengikat tali kasih akan sangat berbeda dengan mereka
yang menganggap pacaran sekadar sensasi yang musti dicoba selagi masih muda.
Kelompok pertama akan menjaga perasaan satu sama lain untuk tidak menyakiti.
Sebaliknya, kelompok kedua tidak serius dalam menapaki jalan pacaran dan
cenderung gonta-ganti pacar. Sejatinya, yang paling dikhawatirkan dari kelompok
ini adalah jika mereka menjadikan pacaran sebagai pemuas nafsu dengan dalih
cinta.
Sulit
membuktikan bahwa pacaran tak seburuk anggapan publik karena realitas berkata demikian.
Sesulit meyakinkan masyarakat bahwa politik bukanlah sesuatu yang kejam nan
kotor. Banyak aktor pacaran yang tersandung kasus hamil di luar nikah. Sebanyak
para politisi yang tersandung kasus korupsi, suap, mark up, dan kejahatan politik lainnya.
Maka,
satu-satunya harapan di tengah arus globalisasi yang menempatkan pacaran
sebagai tren yang ‘sulit dihindari’ adalah kedewasaan. Kedewasaan berpikir
adalah penunjuk arah yang tepat bagi mahasiswa yang melakukan rihlah pacaran.
Jika ‘kendaraan pacaran’ mereka tersesat di tengah jalan dan hendak masuk
jurang, maka penunujuk arah ini yang akan menunjukkan ke jalur yang benar.







hhmmm. . . . gtu yaaa..?? asal tidak melanggar syariah aja... hehe
ReplyDeleteyoi bro....
ReplyDelete