Makalah ini disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Antin Lathifah, M.Ag
Oleh:
Sofwan Farohi (092111130)
PROGRAM STUDI KONSENTRASI ILMU FALAK
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
DINASTI SAFAWI
( 1501-1722 M)
A.
PEMBUKAAN
Kekuatan politik Islam mengalami kemunduran yang dahsyat setelah
Khilafah Islamiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol. Hal ini di
tandai dengan terpecahnya perpolitikan sehingga timbul kerajaan-kerajaan kecil yang
saling memerangi satu sama lain. Peninggalan Budaya Islam banyak yang
hancur pada saat itu. Ini juga didasari akan kekejamaan Timur Lenk diwaktu
menghancurkan kekuatan islam di daerah-daerah kekuasaan islam yang lainnya.
Kerajaan Islam mengalami perkembangan kembali setelah muncul dan
berkembangnya tiga kerajaan besar: Turki Usmani, Kerajaan Safawi di Persia dan
Kerajaan Mughol di India. Kerajaan Turki Usmani adalah kerajaan yang tertua dan
terlama di waktu itu.
B.
KERAJAAN SAFAWI
Kerajaan Safawi merupakan kerajaan yang berdiri pada masa puncak
kemajuan kerajaan Usmani. Kerajaan Safawi berkembang sangatlah cepat, sehingga
dalam perkembangannya sering bentrok dengan kerajaan Usmani.
Kerajaan Usmani memang kerajaan yang lama dan tertua pada masa itu
akan tetapi dalam hal bermadzhab tidaklah sama dengan kerajaan Safawi, kerajaan
ini murni menyatakan sebagai kerajaan yang bermadzhab Syiah. Karena madzhab
negara yang dianutnya adalah Syi’ah, maka kerajaan Safawi dianggap sebagai
kerajaan yang menjadi peletak utama dasar terbentuknya negara Iran pada dewasa
ini.[1]
Kerajaan ini berasal dari sebuah tarekat yang berdiri di Ardabil,
sebuah kota di Azerbaijan. Kerajaan Safawi mempunyai arti kontroversi dalam hal
etimologinya. Menurut Sayid Amir Ali dalam bukunya The Spirit of Islam
mengatakan bahwa kata safawi berasal dari kata Shafi, suatu gelar bagi
nenek moyang raja-raja Safawi: Shafi al-Din Ishak al-Ardabily, pendiri dan pemimpin
tarekat Shafawiyah. Amir Ali beralasan, bahwa para mufasir, pedagang dan
penulis Eropa selalu menyebut raja-raja Shafawi dengan gelar Shafi Agung.
Sedang menurut P.M Holt dan kawan-kawan yang dikutip Ajid Thohir dalam bukunya
Perkembangan Peradaban Dunia Islam. Shafawi berasal dari kata Shafi,
yaitu bagian dari nama Shafi al-Din Ishak al-Ardabily sendiri.[2]
Pendiri Dinasti Safawi adalah Syah Isma'il I pada tahun 907 H/ 1501 M di
Tabriz, Iran (Persia). Awalnya Dinasti Safawi ini bermula dari tradisi tarekat.
Istilah Safawi dinisbahkan kepada tarekat Safawiyah yang didirikan oleh Syekh
Safiuddin Ishaq (650 H/ 1252 M-735 H/ 1335 M) pada tahun 1300-an di Ardabil,
Barat Laut Iran. Kepemimpinan Tarekat Safawiyah dilanjutkan oleh anak cucu
Syekh Safiuddin. Syiah dijadikan sebagai ideologi negara pada saat Ismail
mengukuhkan dirinya sebagai raja (Syah), dia memproklamirkan Syi'ah Isna
Asyariyah sebagi agama negara[3]
Shafi al-Din Ishak al-Ardabily lahir
pada tahun 1501 M/907 H, enam tahun sebelum Hulagu Khan menghancurkan Bagdad
dan mengakhiri Dinasti Abasiyyah. Ia lahir di kota Ardabil, sebuah kota paling
Timur dari Azerbajian.[4] Ia
merupakan keturunan Imam Syi’ah yang keenam, Musa al-Khazim. Gurunya bernama
Syaikh Taj al-Diin Ibrahim Zahidi (1216-1301) yang dikenal dengan julukan Zahid
al-Gilani. Karena ketekunannya ia diangkat menantu oleh gurunya, kemudian ia
menggantikan gurunya sebagai pemimpin tarekat setelah wafat gurunya yang
sekaligus sebagai mertuanya.[5]
Ada dua tahap perjuangan yang ada
dalam kerajaan Safawi, pertama, sebagai gerakan keagamaan ( kultural )
dan kedua, sebagai gerakan politik ( struktural ). Menurut P.M. Holt
yang dikutip Ajid Thohir dalam bukunya Perkembangan Peradaban Dunia Islam,
selama fase pertama ini gerakan Safawi mempunyai peran dua warna, .
bernuansa Sunni, yaitu pada masa pimpinan Syafiuddin Ishak ( 1301-1344 M ), kedua,
berubah menjadi Syiah pada masa pimpinan Khawaja Ali anak Shadruddin (1399-1427 M ). Perubahan
ini terjadi karena pengikut Syiah yang semakin banyak sehingga membuat aliansi
kenegaraan.[6]
C.
Perkembangan Politik
Menuju perkembangannya Bangsa Safawi (tarekat
Safawiyah) sangat fanatik terhadap
ajaran-ajarannya. Hal ini
ditandai dengan kuatnya
keinginan mereka untuk
berkuasa karena dengan berkuasa
mereka dapat menjalankan
ajaran agama yang telah mereka yakini (ajaran Syi’ah). Karena
itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah menjadi tentara yang
teratur, fanatik dalam
kepercayaan dan menentang
setiap orang yang bermazhab selain Syiah.
Gerakanan
tarekat Shafawiyah berdiri hampir bersamaan dengan Dinasti Turki Usmani. Nama
besar Syaikh diabadikan dalam bentuk gerakan tarekat. Nama Safawi juga
digunakan dalam gerkana politik dan Dinasti hingga puncaknya ketika Islamil
memimpin kaum Safawi dan mendeklarsikan Safawi
sebagai sebuah dinasti. Hal ini merupakan keunikan dalam sejarah islam,
dimana sebuah tarekat mampu menjadikan diri sebagai sebuah negara.[7]
Menurut Ajid Tohir ini merupakan fase kedua kerajaan Safawi sebagai gerakan
politik.
Tarekat ini
berkembang dan memiliki masa yang banyak sehingga mempunyai pengaruh besar
dalam hal perpolitikan. Kecenderungan memasuki dunia poitik ini mendapat wujud
konkritnya pada masa kepemimpinan Juneid
( 1447-1460 M ). Dinasti ini memperluas geraknya dengan menambahkan kegiatan
politik pada kegiatan keagamaan.
Perluasan ini
mendapatkan serangan konflik dari pihak luar antara Juneid dengan penguasa Kara
Koyunlu ( Domba Hitam ). Salah satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah
itu. Dalam konflik ini Juneid mengalami kekalahan dan diasingkan ke Diyar Bakr,
di sana ia mendapat perlindungan dari AK-Koyunlu ( domba putih ) dan ia tinggal
di Istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar persia.[8]
Selama masa pengasingan ini Juneid tidak diam saja, melainkan ia
membentuk aliansi besar kepada AK-Khoyunlu untuk menghadapi imperium Kara
Khoyunlu. Ia pun berhasil mempersunting saudara Uzun Hasan. Serta semakin
diperkuat ketika putranya Haidar dinikahkan dengan puterinya Uzun Hasan dari
istrinya Despin Katrina, putri Kallo Johannis, seorang raja kristen di Pantai
Timur laut Hitam.[9]
Sepeninggal imam Junaid, pimpinan tarekat safawiyah digantikan oleh
anaknya yang bernama Haidar. Akan tetapi, pada waktu itu Haidar masih teramat
kecil untuk mengurus sebuah Negara dan dalam asuhan Uzun Hasan. Karena itu,
kepemimpinan gerakan safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada
tahun 1470 M.
Persekutuan
tarekat Safawi dengan AK-Koyunlu telah mengalahkan Kara Koyunlu, akan tetapi
berlanjut dengan kecurigaan AK-Koyunlu terhadap kekuaan tarekat Safawi. Dengan
demikian AK-Koyunlu bersekutu dengan Sirwan untuk mengalahkan gerakan tarekat Safawi,
dalam peperangan ini terbunuhlah Haidar.[10]
Kekaisaran Safawi
kemudian digantikan oleh putera Haidar yang bernama Ali bin Haidar, perseturuan
antara Haidar dan AK-Koyunlu dilanjutkan oleh anaknya hingga akhirnya Ali
bersasma saudaranya Ibrahim dan Ismail, dan ibunya ditangkap dan dipenjarakan
di Fars selama empat setengah tahun ( 1489-1493 M ) oleh Ya’kub pimpinan AK-Khoyunlu.
Pada kesempatan
ini Rustam petera mahkota AK-Khoyunlu membebaskan mereka dengan syarat mau
membantunya memerangi saudaranya. Setelah saudara Rustam terkalahkan Ali
kemudian kembali ke Ardabil. Tidak lama setelah kembalinya Ali ke Ardabil,
Rustam dan pasukannya berbalik memusuhi Ali dan menyerang Ali bersaudara,
hingga akhirnya Ali terbunuh.[11]
Pimpinan gerakan Safawi
diserahkan kepada Ismail adik bungsu Ali yang ketika itu masih berusia tujuh
tahun, Ismail yang masih remaja ini memanfaatkan kesempatannya sebagai Mursyid
dan pimpinan gerakan Safawi untuk berkonsolidasi politik. Islmail dengan
diam-diam membentuk kekutan politik dengan para pengikutnya yang tersebar di
mana-mana. Persekutuan dan konsolidasi ini kurang lebih dalam kurun waktu lima
tahun dan menghasilkan penyatuan politik dan membuat perhitungan untuk
menyerang musuh-musuhnya seperti AK-Koyunlu dan Syirwan. Mereka bermarkas di
Gilan.
Pada tahun 1501
peperangan dengan AK-Koyunlu meledak dan kemenangan di Pihak pasukan Qizilbash dari Safawi di
Sharur dekat Nakhchivan,serta pasukan ini berhasil menguasai Tabris ibukota AK-Koyunlu[12],
dan peristiwa besar lainnya pada tahun ini adalah berdirinya kerajaan Safawi
dan Ismail sendiri sebagai raja Pertama di kerajaan ini, serta menjadikan Syiah
itsna Asyariah sebagai ideologi negara.[13]
D.
Peran Safawi bagi Peradaban Islam
Ismail memproklamirkan diri sebagai raja pertama Dinasti Safawi
yang kemudian disebut Ismail I. Ia berkuasa selama 23 tahun (1501-1524 M).
Dalam waktu sepuluh tahun ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Hanya
dalam masa sepuluh tahun wilayah kekuasaannya sudah meliputi Persia dan bagian
timur Bulan Sabit Subur.
Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK-Koyunlu di Hamadan (
1503 M ), menguasai Propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd ( 1504 M ),
Diyar bakr ( 1505-1507 M ), Baghdan dan daerah barat daya Persia ( 1508 M ),
Sirwan ( 1509 M ), dan Khurasan ( 1510 M ).[14]
Ambisi politik mendorongnya untuk mengembangkan sayap menguasai
daerah-daerah lainnya bahkan ke Turki Usmani. Ismail mengahadapi musuh yang
kuat dan membenci golongan Syi’ah. Peperangan antara Safawi dan Turki Usmani
terjadi pada 1514 M di Chaldiran dekat Tabriz yang menyebabakan Safawi
mengalami kekalahan sehingga Tabriz dapat dikuasai oleh Turki Usmani.[15]
Kekalahan tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri
Ismail sehingga ia lebih senang menyendiri, berburu dan hura-hura. Hal ini
mengakibatkan terjadinya persaingan segitiga antara suku-suku Turki,
pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash untuk merebut pengaruh
dalam memimpin Safawi.[16]
Permusuhan Safawi
dengan kerajaan Turki Usmani masih terus berlangsung. Peperangan dua kerajaan
besar Islam ini terjadi beberapa kali pada masa pemerintahan Tahmasp I (
1524-1576 M ), Ismail II ( 1576-1577 M ), dan Muhammad Khudabanda ( 1577-1587 M
). Pada masa tiga pemerintahan raja tersebut keadaan Safawi sangatlah lemah,
hal ini disebabkan karena faktor kekuatan Usmani yang lebih besar dan juga
faktor dari dalam akan adanya pertentangan antar kelompok-kelompok di dalam
negeri.[17]
E.
Kemajuan Dinasti Safawi
Kondisi
Kerajaan Safawi yang memprihatinkan itu baru bisa diatasi setelah raja Safawi ke lima, Abbas 1 naik
tahta (1588-1628). Popularitas Abbas 1 ditopang oleh sikap keagamaannya. Ia
terkenal sebagai seorang Syi’ah yang shaleh. Sebagai bukti atas kesalehannya adalah bahwa dia sering berziarah
ketempat suci Qum dan Masyhad .Di samping itu Ia pun melakukan perubahan struktur birokrasi dalam
lembaga politik keagamaan. Lembaga ini secara berangsur-angsur dapat
digantikan oleh lembaga Ulama yang dipimpin oleh
seorang syichul Islam.
Dalam tradisi Sunni lembaga tersebut menunjukkan
pemisahan struktur kekuasaan politik antara Ulama dan Umara. AbbasI telah
berhasil menciptakan kemajuan pesat dalam bidang keagamaan, yang membuat ideologi Syi’ah semakin dikukuhkan.[18]
Adapun langkah-langkah yang ditempuh
oleh Abbas I dalam memulihkan konsdisi kesetabilan Dinasti Safawi adalah
sebagai berikut:[19]
1. Menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan
Safawi dengan membentuk pasukan baru yang beranggotakan budak-budak yang
berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan sircassia yang telah
ada sejak raja Tahmasp.
2. Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara Abbas I berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam ( Abu Bakar, Umar, Usman ) dalam khotbah Jumatnya. Untuk mewujudkan perjanjian ini, raja Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah Luristan. Sedangkan sebagai jaminan atas syarat-syarat itu, ia juga menyerahkan saudara sepupunya yang bernama Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul.[20]
Usaha-usaha tersebut berhasil membuat Safawi kembali kuat. Abbas I kemudian memusatkan perhatiannya untuk merebut kembali daerah kekuasaan yang hilang. Pada tahun 1598 M, ia menyerang dan menaklukkan Herat. Dari Herat ia melanjutkan serangan menuju Marw dan Balkh. Setelah kekuatan terbina dengan baik, ia juga berusaha mendapatkan kembali wilayah kekuasaannya dari Turki Usmani. Rasa permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tidak pernah padam sama sekali. Abbas I mengarahkan serangan-serangannya ke wilayah kekuasaan kerajaan Turki Usmani.
2. Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara Abbas I berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam ( Abu Bakar, Umar, Usman ) dalam khotbah Jumatnya. Untuk mewujudkan perjanjian ini, raja Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah Luristan. Sedangkan sebagai jaminan atas syarat-syarat itu, ia juga menyerahkan saudara sepupunya yang bernama Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul.[20]
Usaha-usaha tersebut berhasil membuat Safawi kembali kuat. Abbas I kemudian memusatkan perhatiannya untuk merebut kembali daerah kekuasaan yang hilang. Pada tahun 1598 M, ia menyerang dan menaklukkan Herat. Dari Herat ia melanjutkan serangan menuju Marw dan Balkh. Setelah kekuatan terbina dengan baik, ia juga berusaha mendapatkan kembali wilayah kekuasaannya dari Turki Usmani. Rasa permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tidak pernah padam sama sekali. Abbas I mengarahkan serangan-serangannya ke wilayah kekuasaan kerajaan Turki Usmani.
Pada tahun 1602 M, di saat kerajaan Turki Usmani di bawah pimpinan
Sultan Muhammad III, pasukan Abbas I menyerang dan berhasil menguasai Tibriz,
Sirwan, dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis
dapat juga dikuasai pada tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 M
pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun
menjadi pelabuhan Bandar dalam pemerintahan Abbas.[21]
Sebelum membahas lebih dalam tentang kemajuan yang ada dalam
Dinasti Safawi, akan lebih baiknya kita mengetahui faktor kemajuan yang ada
dalam Dinasti Safawi, antara lain sebagai berikut:
Ada tiga fase perkembangan struktur pemerintahan
Safawi:
1. Periode peralihan, ketika terjadi banyak
perubahan dan penyesuaian banyak struktur administrasi pemerintahan.
2. Syah Abbas I melakukan penataan kembali sistem
administrasi Safawi.
3. Fase kemunduran yang mengakibatkan kejatuhan
Safawi.
a. Faktor-faktor kemajuan
1. Pemusatan sistem birokrasi pertanian pada masa
Syah Abbas I.
2. Pembenahan pada sistem wakaf.
3. Kemajuan dalam bidang pendidikan.
4. Kemampaun dalam mengatasi gejolak politik oleh
Abbas I.
b. Sumbangsih untuk Dunia Islam
Salah satu peninggalan
kerajaan Safawi adalah Jembatan Khaju yang dibangun pada masa Syah Abbas I. Dan
juga Istana Ali Kapu yang merupakan tempat tinggal para Amir waktu itu.
E.1. Kemajuan dalam Bidang Politik
Pengertian
kemajuan dalam bidang poloitik di sini adalah terwujudnya integritas wilayah
negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh dan
diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan peranan dalam
percaturan politik internasional,
Abbas I merupakan
pemimpin yang beranggapan bahwa kekuatan politik suatu negara ditentukan oleh
kekutan militernya. Abbas mengganti pasukan militernya Qizilbash yang
pada masa sebelumnya menjadi tulang punggung Dinasti Safawi digantikan dengan
kekuatan reguler yang diambil dari tawanan perang bekas orang-orang kristen di
Georgia dan Circhasia yang sudah di
mulai di bawa ke persia sejak Syah Tahmasp ( 1524-1576 M ) mereka di
beri gelar “ Ghulam”. Mereka dibina dengan pendidikan militer yang militan dan
dipersenjatai secara modern. Sebagai pimpinannya, Syah Abbas mengangkat
Allahwardi Khan , salah seorang dari Ghulam itu.
Dalam membangun
Ghulam, Syah Abbas mendapat dukungan dari dua orang Inggris, yaitu Sir Antoni
Sherli dan saudaranya, Sir Rodet Sherli mereka yang mengajari tentara Safawi
untuk membuat meriam sebagai perlengkapan tantara yang modern, kedatangan kedua
orang Inggris itu oleh sebagian sejarawan dipandang sebagai upaya strategi
inggris untuk melemahkan pengaruh Turki Usmani di Eropa yang menjadi musuh
besar Inggris saat itu. Bagaimanapun dengan bantuan dua orang Inggris itu, Syah
Abbas memliki tentara yang dapat diandalkan. Hal ini terbukti sekitar 3000
Ghulam dijadikan “Cakrabirawa” oleh Syah sendiri.[22]
E.2. Bidang Ekonomi
Kemajuan ekonomi
pada masa itu bermula dengan penguasaan atas kepulauan Hurmuz dan pelabuhan
Gumrun yang diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan demikian Safawi menguasai jalur
perdagangan antara Barat dan Timur yang biasa diperebutkan oleh Belanda,
Inggris, dan Prancis yang sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi. Di samping
sektor perdagangan, kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan dalam bidang
pertanian, terutama hasil pertanian dari daerah Bulan Sabit yang sangat subur
(Fertille Crescent).[23]
E.3. Bidang Ilmu Pengetahuan
Sepanjang sejarah
Islam Persia di kenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan berjasa
mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada
masa kerjaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut. Sejumlah ilmuan yang
selalu hadir di majlis istana yaitu Baha al-Din al-Syaerazi, generalis ilmu
pengetahuan, Sadar al-Din al-Syaerazi, filosof, dan Muhammad al-Baqir Ibn
Muhammad Damad, filosof, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah
mengadakan observasi tentang kehidupan lebah. Dalam bidang ilmu pengetahuan,
kerajaan Safawi dapat dikatakan lebih berhasil daripada dua kerajaan besar
Islam lainnya, seperti: Turki Usmani dan Mughal pada masa yang bersamaan.[24]
E.4. Bidang Fisik Tata Kota dan Seni
Ibu kota Safawi ialah kota yang sangat indah. Pembangunan
besar-besaran dilakukan Syah Abbas terhadap ibu kotanya, Isfahan. Pada saat ia
mangkat di Isfahan terdapat 162 buah masjid, 48 buah perguruan tinggi, 1082
buah losmen yang luas untuk penginapan tamu-tamu Khalifah, dan 237 unit
pemandian umum.
Diantara yang paling terkenal adalah masjid Syah yang mulai
dibangun sejak 1611 M, masjid Lutfullah yang dibangun pada 1603 M. Syah Abbas
juga membangun Istana megah yang disebut Chihil Sutun atau Istana Empat Puluh
Tiang, sebuah jembatan besar di atas sungai Zende Rud dan Taman bunga empat
penjuru.[25]
Seni lukis mulai
dirintis sejak zaman Tahmaps I, raja Ismail I pada tahun 1522 M dengan cara
membawa seorang pelukis timur ke Tibriz yang bernama Bizhad.[26]
E.5. Bidang Filsafat
Pada masa Dinasti Safawi perkembangann filsafat dan sains bangkit
kembali. Perkembangan baru ini erat kaitannya dengan aliran Syiah yang
dijadikan agama resmi negara.
Syiah dua belas memiliki dua golongan, yakni akbadi dan ushuli.
Mereka berbeda dalam memahami ajaran agama. Akbari lebih cenderung
kepada hasil Ijtihad para mujtahid Syiah yang sudah mapan. Sedangkan Ushuli
mengambil langsung sumber ajaran agama, al-Qur’an dan Sunnah. Golongan Ushuli
inilah yang paling berperan pada
masa Dinasti Safawi.
Menurut Hodgson yang dikutip Ajid Thohir dalam bukunya Perkembangan
Peradaban Dunia Islam ada dua aliran filsafat yang berkembang pada masa Dinasti
Safawi. Pertama, aliran filsafat “perifatetik” sebagaimana yang telah
dikemukakan oleh Aristoteles dan al-Farabi. Kedua, filsafat Isyraqi yang
dibawa oleh Suhrawandi pada abad XII. Salah satu filsuf yang terkenal pada masa
Safawi adalah Mir Damad alias Muhammad Baqir Damad ( w. 1631 ) yang dianggap
sebagai guru ketiga ( muammal tsalits ) sesudah Aristoteles dan
al-Farabi.
Tokoh filsafat lainnya adalah Mulla Shadra atau Shadr al-Din
al-Syirazi yang menurut Amir Ali, ia adalah seorang dialektikus yang paling
cakap di zamannya.[27]
F.
Masa Kemunduran Safawi
a. Faktor-faktor Kemunduran
1. Kurang pandainya para penguasa dalam
mengendalikan sistem pemerintahan.
2. Kurangnya perhatian sebagian raja pasca Syah Abbas I terhadap persoalan sosial kemasyarakatan dan kenegaraan.
2. Kurangnya perhatian sebagian raja pasca Syah Abbas I terhadap persoalan sosial kemasyarakatan dan kenegaraan.
3. Adanya penguasa
yang kecanduan minuman keras.
4. Melemahnya sistem pemerintahan dan pertahanan
serta keamanan Kerajaan Safawi pada masa Syah Safi sehingga Qandarah dan
Baghdad jatuh ke tangan Usmani dan Mogul India.
5. Kebijakan pemusatan pemerintahan dan ekonomi
yang tidak berhasil.
6. Adanya konflik yang berkepanjangan dengan Kerajaan
Usmani.
7. Terjadinya konflik intern dalam bentuk perebutan
kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan.
8. Pemaksaan faham Syi'ah yang menyebabkan orang-orang Sunni memberontak
melalui suku Afgan.
b. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Kerajaan safawi
di Persia meraih puncak keemasan dibawah pemerintahan syah Abbas I selama
periode 1588-1628 M. Abbas I berhasil membangun kerajaan safawi sebagai
kompetitor seimbang bagi Kerajaan Turki Usmani. Bahkan dalam bidang ilmu
pengetahuan, kerajaan ini lebih menonjol daripada kerajaan Turki Usmani,
khususnya ilmu filsafat yang berkembang amat pesat. Hurmuz sebagai pelabuhan
utama berhasil dikuasai oleh Abbas I sehingga wilayah ini mampu memjamin
kehidupan perekonomian Safawi.
Tanda-tanda
kemunduran kerajaan persia mulai muncul sepeninggalan Syah Abbas I.
Secara berturut-turut syah yang menggantikan abbas I adalah:
1.
Safi Mirza (1628-1642 M)
2.
Abbas II (1642-1667 M)
3.
Sulaiman (1667-1694 M0
4.
Husain (1694-1722 M)
5.
Tahmasp II (1722-1732 M)
6.
Abbas III (1733-1736 M).
Banyak faktor yang mewarnai kemunduran kerajaan safawi,
diantaranya dari perebutan kekuasaan dikalangan keluarga kerajaan. Diakui
bahwa Syah-syah yang menggantikan Abbas I sangat lemah. Safi Mirza merupakan
pemimpin yang lemah dan kelemahan ini dilengkapinya oleh kekejaman yang luar
biasa terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifatnya yang pecemburu. Pada
masa pemerintahan Mirza inilah kota Qandahar lepas dari penguasaan Safawi
karena direbut oleh kerajaan Mughal yang pada saat itu dipimpin oleh Syah
Jehan. Baghdad sendiri direbut oleh Kerajaan Usmani.
Abaas II
konon seorang raja pemabuk, akan tetapi di tangannya kota Qandahar bisa direbut
kembali. Kebiasaan mabuk inilah yang menamatkan riwayatnya. Demikian halnya
dengan sulaiman, ia seorang pemabuk dan selalu bertindak kejam terhadap
pembesar istana yang dicurigainya. Selama tujuh tahun ia tak pernah memerintah
kerajaan. Diyakini, konflik dengan turki Usmani adalah sebab pertama yang menjadikan
Safawi mengalami kemunduran. Terlebih Turki Usmani merupakan kerajaan yang
lebih kuat dan besar daripada Safawi. Hakikatnya ketegangan ini disebabkan oleh
konflik Sunni-Syi’ah.[28]
Syah
Husain adalah raja yang alim akan tetapi kealiman Husain adalah suatu
kefanatikan tehadap Syi’ah. Karena dialah ulama syi’ah berani memaksakan
pendiriannya terhadap golongan sunni. Inilah yang menyebabkan timbulnya
kemarahan golongan sunni di Afganistan.
Dan pemberontakan inilah yang mengakhiri kisah Kerajaan Safawi.[29]
Pemberontakan bangsa Afgan
dimulai pada 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah
Qandahar. Lalu disusul oleh pemberontakan suku Ardabil di Herat yang berhasil
menduduki Mashad.
Mir Vays
digantikan oleh Mir Mahmud sebagai penguasa Qandahar. Di bawahnyalah,
keberhasilan menyatukan suku Afgan
dengan suku Ardabil.
Dengan kekuatan yang semakin besar, Mahmud semakin terdorong untuk memperluas
wilayah kekuasaannya dengan merebut wilayah Afgan dari tangan Safawi. Bahkan ia melakukan penyerangan terhadap
Persia untuk menguasai wilayah tersebut.
Penyerangan
demi penyerangan ini memaksa Husain untuk mengakui kekuasaan Mahmud. Oleh
Husain, Mahmud diangkat menjadi
gubernur di Qandahar dengan gelar Husain
Quli Khan yang berarti Budak Husain. Dengan pengakuan ini semakin mudah bagi
Mahmud untuk menjalankan siasatnya. Pada 1721 M ia berhasil merebut Kirman.
Lalu menyerang Isfahan, mengepung ibu kota safawi itu selama enam bulan dan
memaksa Husain menyerah tanpa syarat. Pada 12 oktober 1722 M Syah Husain
menyerah dan 25 oktober menjadi hari pertama Mahmud memasuki kota Isfahan
dengan kemenangan.
Tak
menerima semua ini, Tahmasp II yang merupakan salah seorang putra Husain dengan
dukungan penuh suku Qazar dari rusia, memproklamirkan diri sebagai penguasa
Persia dengan ibu kota di Astarabad. Pada 1726 M, Tahmasp bekerja sama dengan
Nadir khan dari suku afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa afgan yang
menduduki Isfahan. Asyraf sebagai pengganti Mir Mahmud berhasil dikalahkan pada
1729 M, bahkan Asyraf terbunuh dalam pertempuran tersebut. Dengan kematian
Asyraf, maka dinasti Safawi berkuasa lagi.
Pada
Agustus 1732 M, Tahmasp II dipecat oleh Nadir Khan dan digantikan oleh Abbas
III yang merupakan putra Tahmasp II, padahal usianya masih sangat muda.
Ternyata ini adalah strategi politik Nadir Khan karena pada tanggal 8 maret
1736, dia menyatakan dirinya sebagai penguasa Persia dari Abbas III. Maka berakhirlah kekuasaan dinasti
Safawi di Persia.
Kehancuran
Safawi juga dikarenakan lemahnya pasukan Ghulam
yang diandalkan oleh safawi pasca penggantian tentara Qizilbash. Hal ini
karena pasukan Ghulam tidak dilatih secara penuh dalam memahami seni militer.
Sementara sisa-sisa pasukan Qizilbash tidak
memiliki mental yang kuat dibandingkan dengan para pendahulu mereka. Sehingga
membuat pertahanan militer Safawi sangat lemah dan mudah diserang oleh lawan.[30]
Safi al-Din
Sadar al-Din
Musa
Khawaja Ali
Ibrahim
Juneid
Haidar
1.
Ismail
(1501-1524
M)
3.
Tahmasp I
(1524-1576 M)
4.
Muhammad Khudabanda
3. Ismail (1576-1577 M)
5.
Abbas I
(1588-1628
M)
6.
Safi Mirza
7.
Abbas II
8.
Sulaiman
9.
Husein
10. Tahmasp II
11. Abbas III
(1732-1736 M)
DAFTAR PUSTAKA
Bakri.,
Syamsul, Peta Sejarah Peradaban Islam, ( Yogyakarta, Fajar Media
Press,2011) cet I.
http://referensiagama.blogspot.com/2011/02/kejayaan-kerajaan-safawi-di-persia.html
(11-11-2011 pkl.07.42)
Ibrahim Hassan,
Hassan. Sejarah dan Kebudayaan Islam, ( Yogyakarta: Kota Kembang, 1989)
Karim,
M. Abdul. Sejarah Pemikiran ddan Peradaban Islam, ( Yogyakarta: Pustaka
Book Publsiher, 2007) cet I.
Saepudin, Didin,Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:Uin
Jakarta press,2007)
Syukur,
Fatah. Sejarah Peradaban Islam, (Semarang : PT Pustaka Rizki Putra,
2009)
Tohir, Ajid, perkembangan
peradaban di dunia islam( Jakarta: PT Raja Grafindo,2004) cet I
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Dinasti II, ( Jakarta:
Raja Grafindo,2008)
[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam
Dinasti II, ( Jakarta: Raja Grafindo,2008 ),hlm. 138
[2] Ajid Tohir, perkembangan
peradaban di dunia islam( Jakarta: PT Raja Grafindo,2004) cet I,hlm. 167
[3] http://referensiagama.blogspot.com/2011/02/kejayaan-kerajaan-safawi-di-persia.html (11-11-2011 pkl.07.42)
[4] Ajid Tohir, Op.Cit.
[5] Badri Yatim, Op.Cit.
[6] Ajid Tohir,
Op. Cit. 169-170
[7] Syamsul Bakri,
Peta Sejarah Peradaban Islam, ( Yogyakarta, Fajar Media Press,2011) cet
I, hlm. 145
[8] Badri Yatim,
op.cit. hlm139
[9] Ajid Thohir. Op, Cit hlm 171
[10] Syamsul Bakri, Op. Cit. Hlm. 146
[11] Badri Yatim. Op. Cit. Hlm. 140-141
[12] Ibid. Hlm. 141
[13] Ajid Thohir ,
Op.Cit, hlm. 173
[14] Badri Yatim. Op. Cit. 141
[15] Hassan Ibrahim
Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, ( Yogyakarta: Kota Kembang, 1989),
hlm. 337
[16] Didin
Saepudin,Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:Uin Jakarta
press,2007),hlm179
[17] Badri Ytim.
Op. Cit,hlm. 142
[18] Didin
Saepudin. Op. Cit, hlm. 180
[19] Fatah Syukur, Sejarah
Peradaban Islam, Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 2009 hlm 140
[20] Badri Yatim,
Op. Cit, hlm. 143
[21] ibid
[22] Ajid Thohir,
OP. Cit, hlm. 174-175
[23] Baadri Yatim.
Op. Cit, hlm.144
[24] ibid
[25] Ajid Thohir,
Op. Cit, hlm 178
[26] Badri Yatim.
Op. Cit, hlm. 145
[27] Ajid Thohir.
Op. Cit, hlm 176-177
[28] Badri Yatim.
Op. Cit, hlm 156-157
[29] Syamsul Bakri.
Op. Cit, hlm. 149
[30] Badri Yatim.
Op. Cit, hlm. 157-159






0 komentar:
Post a Comment