Sudah tidak
asing lagi dikalangan anak muda (ababil) kalimat “galau”, mode galaupun sampai
bermacam macam, adakalanya kita sendiri malam hari sambil lihat bintang ataupun
bulan, namun terkadang juga karokean, nge-dugem, gitaran bareng teman-teman
atau nangis di tempat tidur. Itulah fase galau dalam beberapa versi.
Seberapapun
lamanya kita menggalau itu adalah perbuatan sia-sia yang menghabiskan waktu
lama, memang pikiran tidak sedang sehat karena kekesalan dalam hati masih
menempati pikiran utama sehingga keadaan menjadi rancu dan tak sadarkan diri,
pribadi akan selalu dikerumuni dengan masalah.
Penyebab semua
itu adalah kurangnya keikhlashan dalam diri untuk menerima kenyataan. Ikhlash,
qonaah dalam filosofi islam telah memberikan warna hidup agar lebih tenang,
berperasangka baik terhadap diri juga merupakan indeks ketenangan batin
sendiri. Tidak berpersangka buruk saja sudah cukup, apalagi ditambah dengan
amalan yang baik, niscaya hati akan tenang, misal; mau membaca, mengisi
kekosongan dengan aktivitas apapun yang bermanfaat dan selalu berusaha untuk
mengikhlaskan apapun kejelekan yang menimpa kita untuk dijadikan pelajaran
dalam kehidupan.
Semua hal
kegalauan intinya kembali kepada diri sendiri, tidak usah menyalahkan orang
lain apalagi selalu mebicarakan kesalahannya padahal itulah yang menjadikan
selalu merasa sakit atau “galau”. Tinggalkan perilaku itu, cukup Husnudzon
(berperasangka baik) tanpa menncela lawan yang membuat kita sedih.Ofan
أنا عند ظنِّ
عبدي بي.....
“AKU dalam
perasangka hamba-KU terhadap-KU”







0 komentar:
Post a Comment