Pages

Friday, 7 November 2014

Pesantren vs Sejarah

Banyak kalangan sekarang yang tidak tertarik dengan pendidikan di Pesantren, seolah mereka lupa bahwa kemerdekaan negeri ini adalah sumbangsih perjuangan dari para santri dan kyainya. Seolah melupakan sejarah dengan dikeluarkannya mineside bahwa santri kaum marginal, kuno dan tak layak pakai.
Kata kuno sendiri diartikan dengan selalu berbudaya dahulu tanpa memperbaharui pendidikan formalnya, padahal jika tahu dan merasakan pendidikan di pesantren mungkin yang mengatakan seperti itu akan segera mengerti perbedaan pendidikan dan pengajaran. “monyet makan manggis, si buta meraba gajah”.
Pesantren lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan kata-kata a,b,c,d dsb melainkan mengajarkan fungsi dari ilmu dan kegunaannya secara nyata dalam kehidupan, school practice. Seolah berbeda dengan era baru-baru ini, pesantren laiknya mesin pencari uang yang hanya disandarkan untuk mencari sumbangan, padahal jiwa keikhlasan sebenarnya yang harus ditanamkan.

Pendidikan pesantren sejatinya mencerminkan keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhwah islamiyah dan kebebasan. Ciri tersebut semuanya ada dalam pendidikannya bukan hanya pengajarannya yang ditekankan melainkan akhlak harus terwujud dengan eksistensi kelak sebagai pemimpin di masyarakat. Ofan

0 komentar:

Post a Comment