Banyak kalangan sekarang yang
tidak tertarik dengan pendidikan di Pesantren, seolah mereka lupa bahwa
kemerdekaan negeri ini adalah sumbangsih perjuangan dari para santri dan kyainya.
Seolah melupakan sejarah dengan dikeluarkannya mineside bahwa santri kaum
marginal, kuno dan tak layak pakai.
Kata kuno sendiri diartikan
dengan selalu berbudaya dahulu tanpa memperbaharui pendidikan formalnya,
padahal jika tahu dan merasakan pendidikan di pesantren mungkin yang mengatakan
seperti itu akan segera mengerti perbedaan pendidikan dan pengajaran. “monyet
makan manggis, si buta meraba gajah”.
Pesantren lembaga pendidikan yang
tidak hanya mengajarkan kata-kata a,b,c,d dsb melainkan mengajarkan fungsi dari
ilmu dan kegunaannya secara nyata dalam kehidupan, school practice. Seolah
berbeda dengan era baru-baru ini, pesantren laiknya mesin pencari uang yang
hanya disandarkan untuk mencari sumbangan, padahal jiwa keikhlasan sebenarnya
yang harus ditanamkan.
Pendidikan pesantren sejatinya
mencerminkan keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhwah islamiyah dan
kebebasan. Ciri tersebut semuanya ada dalam pendidikannya bukan hanya
pengajarannya yang ditekankan melainkan akhlak harus terwujud dengan eksistensi
kelak sebagai pemimpin di masyarakat. Ofan







0 komentar:
Post a Comment