Keadaan
negara kita ini sangat kacau (disorder), entah sampai kapan keadaan yang
memukul bangsa indonesia ini akan berakhir.
Kita
semua menginginkan ketertiban. Ketertiban adalah satu-satunya keadaan yang
mungkin terjadi di masyarakat. Mungkin kepanikan kita dimulai dari situ. Bahan
yang selalu ada dalam mainside kita adalah suasana tertib. Maka ketika datang
kekacauan berkepanjangan, masyarakat kita panik.
Mari
kita menapaktilas sejarah kemerdekaan bangsa indonesia, sebenarnya kemerdekaan
kita lahir dalam dan dari kekacauan. Kemerdekaan indonesia terjadi sepihak
dengan memperkosa tertib hukum yang ada pada saat itu, yaitu hukum hindia
belanda.
Ternyata
kekacauan dan ketertiban datang silih berganti dan itulah yang telah mendekati
apa yang disebut normal. Sehingga berdasar pengalaman sejarah kita mengatakan,
di dalam ketertiban ada benih-benih kekacauan, sedangkan dalam kekacauan tersimpan
bibit-bibit ketertiban. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang.
Teori-teori
ketertiban secara normatif dan positif tidak dapat menjelaskan tentang keadaan
yang kita hadapi saat ini. Teori newton, yang menjelaskan bahwa alam
dipersepsikan sebagai proses yang berjalan tertib, ternyata tidak dapat
mendeskripsikan aneka kenyataan menyimpang yang sama terjadi di alam.
Salah
satu cara untuk mengetahui penyebab kekacauan adalah dengan teori kekacauan itu
sendiri. Karena dengannya kita berusaha agar kekacauan itu kembali menjadi
mulus dan lancar. Setidaknya ada dua usaha yang dapat dicatat untuk memulihkan
kelancaran atau ketertiban.







Setidaknya ada DUA USAHA yang dapat dicatat untuk memulihkan kelancaran atau ketertiban.
ReplyDeleteDUA USAHA itu apa saja, pak ustadz?
usahanya adalah mendekatkan problematika kemasyarakatan dengan pandangan ilmu agalam dimana kekacauan diimbangi dengan iman yang intinya pada hikmah persaudaraan, kebanyakan diera sekarang masyarakat sudah krisis akan kepercayaan satu sama lain, dengan menanamkan jiwa saling percaya dan amanah serta pasrah kepada Allah Ikhlash. Insyaallah manfaat. Mas Faza Muttaqin..
ReplyDelete