Pages

Sunday, 16 November 2014

Mari Berdzikir

Allah SWT telah melebihkan manusia dari semua makhluk lain, memberinya keistimewaan nikmat berbicara, dan menjadikan lidah sebagai alat berbicara tersebut. Nikmat berbicara ini bisa digunakan baik dalam kebaikan ataupun kejelekan. Siapa saja yang mempergunakan nikmat tersebut untuk kebaikan maka akan mengantarkannya kepada kebahagiaan dunia dan derajat yang utama di akhirat. Dan barang siapa yang menggunakannya untuk kejelekkan maka ia akan membawa kepada kehancuran di dunia dan di akhirat. Sebaik-baik pemanfaatan waktu setelah membaca Al-Qur’an adalah berzikir kepada Allah SWT.

Pengertian zikir secara sempit adalah mengingat atau menyebut yang dilakukan dengan lisan. Seperti  mengucapan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqolah, dan lain-lainnya. Adapun bilangannya adalah sebanyak-banyaknya. Membaca sekali disebut dzikir. Namun semakin banyak dzikirnya, maka semakin bagus dan semakin  banyak pahala. Adapun zikir dalam pengertian luas, sebagaimana dikatan oleh Prof. Quraish Shihab ialah kesadaran tentang kehadiran Allah dimana dan kapan saja serta kesadaran akan kebersamaan-Nya dengan makhluk. Kebersamaan dalam arti pengetahuan-Nya terhadap apapun di alam raya ini serta bantuan dan pembelaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang taat.

Zikir diperlukan bagi manusia. Karena dalam zikir terdapat manfaat yang luar biasa.  Diantaranya manfaat dzikir adalah sebagai berikut:

  1. Menimbulkan kecintaan dan ketaatan kepada Allah, muroqobatullah (merasa selalu dalam pengawasan Allah) dan takut kepadanya,serta taubat.
  2. Menghilangkan kesedihan dan gundah gulana dalam hati, mendatangkan keceriaan, serta membuat hati hidup, kuat dan jernih.
  3. Dalam hati ada kebutuhan dan kekurangan yang tidak dapat terpenuhi kecuali dengan zikir, dan ada sifat keras yang tidak dapat diluluhkan dan dilembutkan kecuali dengan berzikir kepada Allah.
  4. Dzikir adalah obat hati, sedangkan penyakitnya adalah lalai.
  5. Dengan sibuknya lidah berzikir, terselamatkanlah dari perkataan sia-sia, ghibah, namimah, dusta dan perkara-perkara makruh lainnya
  6. Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, mulia dan utama. Dzikir adalah tanaman surga.
  7. Dzikir memudahkan urusan yang sulit, meringankan beban, mendatangkan rizki.
  8. Dzikir mampu mengusir setan, menundukkan, merendahkan dan menghinakannya.

Orang yang melalaikan zikir, maka ia akan diberi qarin (teman) berupa syetan yang menghalanginya dari jalan yang benar dan mengantarkannya pada jalan yang sesat (QS; Az-Zukruf : 36) 

Mendapat kehidupan yang sempit dan tidak pernah merasa puas dengan perolehannya dan dibangkitkan dalam keadaan buta (QS. Toha: 124).

Zikir artinya berjalan menuju Allah. Ketika kita sedang shalat, berzakat, berzikir, dan membaca Al-Qur’an, sesungguhnya kita sedang berjalan menuju Allah. Setiap perjuangan kita dalam menuju Allah pasti dilihat oleh Allah, Allah Maha Pemurah, Penyayang. Dan salah satu keistimewaan berdzikir adalah kemudahan dan tak ada batasan waktu tertentu. Sahabat Ibnu Abbas berkata: “Allah tidak mewajibkan suatu kewajiban pun kepada seorang hamba, melainkan dilengkapi pula dengan rambu-rambunya. Kemudian Ia memberikan kemurahan manakala sang hamba menghadapi suatu uzur (halangan). Beda dengan zikir, karena Allah tidak menentukan batas-batasnya, dan Ia tidak menganugerahi kemurahan kepada seseorang untuk meninggalkannya, kecuali agar zikir itu terus menguasai hati dan akalnya. Allah juga memerintahkan agar para hamba selalu mengingat-Nya dalam setiap keadaan. Imam Mujahid berkata :” Zikir yang dilakukan dalam jumlah yang banyak bertujuan agar seorang hamba tidak melupakan Zat yang menciptakannya untuk selamanya.

Dzikir merupakan ibadah hati dan lisan, yang tidak mengenal batasan waktu. Bahkan Allah menyifati ulil albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa menyebut Rabnya, baik dalam keadaan berdiri, duduk bahkan juga berbaring. Oleh karenanya dzikir bukan hanya ibadah yang bersifat lisaniah, namun juga qolbiah. Imam Nawawi menyatakan bahwa dzikir yang afdhal adalah dilakukan bersamaan di lisan dan di hati. Sekiranyapun harus salah satunya, maka dzikir hatilah yang lebih afdhal. Meskipun demikian, menghadirkan maknanya dalam hati, memahami maksudnya merupakan suatu hal yang harus diupayakan dalam dzikir. Imam Nawawi menyatakan:

المُرَادُ مِنَ الذِّكْرِ حُضُوْرُ الْقَلْبِ ، فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ هُوَ مَقْصُوْدُ الذَّاِكرِ فَيَحْرُصُ عَلَى تَحْصِيْلِهِ ، وَيَتَدَبَّرَ مَا يَذْكُرُهُ ، وَيَتَعَقَّلَ مَعْنَاهُ..

"Yang dimaksud dengan dzikir adalah menghadirkan hati. Seyogyanya hal ini menjadi tujuan dzikir, hingga seseorang berusaha merealisasikannya dengan mentadaburi apa yang didzikirkan dan memahmi makna yang dikandungnya.."

Dengan dzikir ini pulalah, Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, bahwa hati dapat menjadi tenang dan tentram (13:28)

الذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang."

Perlu diingatkan lagi, bahwasanya ketika lisan dan hati belum mampu berzikir secara bersamaan bukan berarti kita meninggalkan anugrah Allah berupa kemauan dan semangat kita untuk berdzikir. Sebagai mana dikatakan oleh Ibnu ‘Athaillah : “Janganlah engkau meninggalkan zikir lantaran engkau belum selalu ingat Allah ketika berdzikir, sebab kelalaian kamu terhadap Allah ketika tidak berzikir lebih berbahaya daripada kelalaian kamu terhadap Allah ketika tidak berdzikir sama sekali.

Dzikir yang benar adalah dzikir yang ikhlas hanya mengharapkan ridha Allah semata. Serta tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan keikhlasan ini juga sampai pada derajat, tidak boleh meninggalkannya karena takut riya’. Karena meninggalkan pekerjaan karena takut riya’ adalah riya’, sebagaimana dikemukakan Fudhail bin Iyadh:

قَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، "تَرْكُ الْعَمَلَ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لأَجْلِ النَّاسِ شِرْكُ، وَاْلإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيْكَ اللهُ مِنْهُمَا

Fudahil bin Iyadh mengatakan, "Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas adalah Allah melepaskanmu dari kedua hal diatas.”

0 komentar:

Post a Comment