Allah SWT telah melebihkan manusia dari semua makhluk lain,
memberinya keistimewaan nikmat berbicara, dan menjadikan lidah sebagai alat
berbicara tersebut. Nikmat berbicara ini bisa digunakan baik dalam kebaikan
ataupun kejelekan. Siapa saja yang mempergunakan nikmat tersebut untuk kebaikan
maka akan mengantarkannya kepada kebahagiaan dunia dan derajat yang utama di
akhirat. Dan barang siapa yang menggunakannya untuk kejelekkan maka ia akan
membawa kepada kehancuran di dunia dan di akhirat. Sebaik-baik pemanfaatan
waktu setelah membaca Al-Qur’an adalah berzikir kepada Allah SWT.
Pengertian zikir secara sempit adalah mengingat atau menyebut yang
dilakukan dengan lisan. Seperti
mengucapan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqolah, dan
lain-lainnya. Adapun bilangannya adalah sebanyak-banyaknya. Membaca sekali
disebut dzikir. Namun semakin banyak dzikirnya, maka semakin bagus dan
semakin banyak pahala. Adapun zikir
dalam pengertian luas, sebagaimana dikatan oleh Prof. Quraish Shihab ialah
kesadaran tentang kehadiran Allah dimana dan kapan saja serta kesadaran akan
kebersamaan-Nya dengan makhluk. Kebersamaan dalam arti pengetahuan-Nya terhadap
apapun di alam raya ini serta bantuan dan pembelaan-Nya terhadap
hamba-hamba-Nya yang taat.
Zikir diperlukan bagi manusia. Karena dalam zikir terdapat manfaat
yang luar biasa. Diantaranya manfaat
dzikir adalah sebagai berikut:
- Menimbulkan kecintaan dan ketaatan kepada Allah, muroqobatullah (merasa selalu dalam pengawasan Allah) dan takut kepadanya,serta taubat.
- Menghilangkan kesedihan dan gundah gulana dalam hati, mendatangkan keceriaan, serta membuat hati hidup, kuat dan jernih.
- Dalam hati ada kebutuhan dan kekurangan yang tidak dapat terpenuhi kecuali dengan zikir, dan ada sifat keras yang tidak dapat diluluhkan dan dilembutkan kecuali dengan berzikir kepada Allah.
- Dzikir adalah obat hati, sedangkan penyakitnya adalah lalai.
- Dengan sibuknya lidah berzikir, terselamatkanlah dari perkataan sia-sia, ghibah, namimah, dusta dan perkara-perkara makruh lainnya
- Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, mulia dan utama. Dzikir adalah tanaman surga.
- Dzikir memudahkan urusan yang sulit, meringankan beban, mendatangkan rizki.
- Dzikir mampu mengusir setan, menundukkan, merendahkan dan menghinakannya.
Orang yang melalaikan zikir, maka ia akan diberi qarin (teman)
berupa syetan yang menghalanginya dari jalan yang benar dan mengantarkannya
pada jalan yang sesat (QS; Az-Zukruf : 36)
Mendapat kehidupan yang sempit dan tidak pernah merasa puas dengan
perolehannya dan dibangkitkan dalam keadaan buta (QS. Toha: 124).
Zikir artinya berjalan menuju Allah. Ketika kita sedang shalat,
berzakat, berzikir, dan membaca Al-Qur’an, sesungguhnya kita sedang berjalan
menuju Allah. Setiap perjuangan kita dalam menuju Allah pasti dilihat oleh
Allah, Allah Maha Pemurah, Penyayang. Dan salah satu keistimewaan berdzikir
adalah kemudahan dan tak ada batasan waktu tertentu. Sahabat Ibnu Abbas
berkata: “Allah tidak mewajibkan suatu kewajiban pun kepada seorang hamba,
melainkan dilengkapi pula dengan rambu-rambunya. Kemudian Ia memberikan
kemurahan manakala sang hamba menghadapi suatu uzur (halangan). Beda dengan
zikir, karena Allah tidak menentukan batas-batasnya, dan Ia tidak menganugerahi
kemurahan kepada seseorang untuk meninggalkannya, kecuali agar zikir itu terus
menguasai hati dan akalnya. Allah juga memerintahkan agar para hamba selalu
mengingat-Nya dalam setiap keadaan. Imam Mujahid berkata :” Zikir yang
dilakukan dalam jumlah yang banyak bertujuan agar seorang hamba tidak melupakan
Zat yang menciptakannya untuk selamanya.”
Dzikir
merupakan ibadah hati dan lisan, yang tidak mengenal batasan waktu. Bahkan
Allah menyifati ulil albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa
menyebut Rabnya, baik dalam keadaan berdiri, duduk bahkan juga berbaring. Oleh
karenanya dzikir bukan hanya ibadah yang bersifat lisaniah, namun juga qolbiah.
Imam Nawawi menyatakan bahwa dzikir yang
afdhal adalah dilakukan bersamaan di lisan dan di hati. Sekiranyapun harus
salah satunya, maka dzikir hatilah yang lebih afdhal. Meskipun demikian,
menghadirkan maknanya dalam hati, memahami maksudnya merupakan suatu hal yang
harus diupayakan dalam dzikir. Imam Nawawi menyatakan:
المُرَادُ مِنَ الذِّكْرِ حُضُوْرُ الْقَلْبِ ،
فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ هُوَ مَقْصُوْدُ الذَّاِكرِ فَيَحْرُصُ عَلَى
تَحْصِيْلِهِ ، وَيَتَدَبَّرَ مَا يَذْكُرُهُ ، وَيَتَعَقَّلَ مَعْنَاهُ..
"Yang dimaksud dengan dzikir adalah
menghadirkan hati. Seyogyanya hal ini menjadi tujuan dzikir, hingga seseorang
berusaha merealisasikannya dengan mentadaburi apa yang didzikirkan dan memahmi
makna yang dikandungnya.."
Dengan dzikir ini pulalah, Allah gambarkan
dalam Al-Qur’an, bahwa hati dapat menjadi tenang dan tentram (13:28)
الذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ
بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan
dzikrullah hati menjadi tenang."
Perlu
diingatkan lagi, bahwasanya ketika lisan dan hati belum mampu berzikir secara
bersamaan bukan berarti kita meninggalkan anugrah Allah berupa kemauan dan
semangat kita untuk berdzikir. Sebagai mana dikatakan oleh Ibnu ‘Athaillah : “Janganlah
engkau meninggalkan zikir lantaran engkau belum selalu ingat Allah ketika
berdzikir, sebab kelalaian kamu terhadap Allah ketika tidak berzikir lebih
berbahaya daripada kelalaian kamu terhadap Allah ketika tidak berdzikir sama
sekali.
Dzikir yang benar adalah dzikir yang ikhlas
hanya mengharapkan ridha Allah semata. Serta tidak bertentangan
dengan ajaran Islam. Bahkan keikhlasan ini juga sampai pada derajat,
tidak boleh meninggalkannya karena takut riya’. Karena meninggalkan pekerjaan
karena takut riya’ adalah riya’, sebagaimana dikemukakan Fudhail bin Iyadh:
قَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ، "تَرْكُ الْعَمَلَ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لأَجْلِ
النَّاسِ شِرْكُ، وَاْلإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيْكَ اللهُ مِنْهُمَا
Fudahil bin Iyadh mengatakan, "Meninggalkan
amalan karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas adalah Allah melepaskanmu dari kedua hal diatas.”







0 komentar:
Post a Comment