| Membaca Buku teman sejati |
خير جليس في الزمان كتاب
Petikan dalam bahasa arab di atas merupakan
gambaran sikap seorang santri terhadap ilmunya, kecintaan terhadap ilmu harus ada
dan melekat dalam dirinya untuk menyongsong kehidupan di masa depan. Banyak kita
ketahui keutamaan menuntut ilmu dalam Hadits maupun Qur’an, menjelaskan begitu
perhatiaanya islam terhadap ilmu itu sendiri.
Allah Swt mengangkat derajat orang-orang
yang berilmu, dengan ilmu yang ia miliki menjadikannya mengerti siapa Tuhannya
dan dimana landasan hati disandarkan. Namun tidak banyak dari mereka
mencampakkan ilmu dan tidak mau mengamalkannya, menganggap dirinyalah sumber
ilmu yang didapatkannya dari belajar, pengetahuan beginilah yang menjadikan
anggapan miring terhadap orang yang berilmu.
Ilmu identik dengan adab seseorang, bagaimana
klarifikasi terhadap statement ini??
Mungkin pernah terdengar di telinga pembaca
bahwa “sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-Nya hanya orang-orang
yang berilmu” lalu bagaimana dengan mereka orang yang berdasi dengan
gelar di depan atau di belakang namanya yang banyak namun kesiapan mental
terhadap sosialnya nol. Bagaimana mereka bertanggung jawab terhadap ilmu yang
dimilikinya.
Inilah perlunya adab dalam menuntut ilmu,
dengan adab ilmu dapat bermanfaat dengan baik, sesuai perintahnya ilmu
meninggikan derajat pemiliknya dengan syarat menjadikan adab dalam berilmu
sebagai pedomannya. Berdab dalam menuntut ilmu menjadikannya petunjuk
untuk dirinya semakin mengenal siapa Yang Maha berilmu sesungguhnya, dalam
hatinya tidak ada kesombongan dan kedengkian terhadap orang yang lebih rendah
di bawahnya.
Jika manusia berilmu namun tidak
mendapatkan “hudan” (petunjuk) maka ia akan hidup dalam kesombongan
dengan ilmu yang ia miliki. Mari kita tumbuhkan adab, dan cinta terhadap ilmu,
banyak yang harus dipelajari bersama dan tinggalkan ego bahwa kita memiliki
ilmu, karena sejatinya ilmu hanya titipan dari Yang Maha Berilmu (al-‘Alim).
Wallahua’lam. Ofan






0 komentar:
Post a Comment