Ada beberapan terma tentang kepemimpinan dalam sajarah panjang Islam di dunia ini, seperti amir, imam, khalifah, rais dll. akan tetapi dalam perkembangannya, terma-terma di atas hanya menjadi sebuah nama tanpa diketahui makna dan substansi yang sesungguhnyamari kita melakukan kontemplasi secara mendalam dalam mengarungi amanah kepemimpinan di muka bumi ini. Berawal dari sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab Shahih-nya :
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ
أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ
اللهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ
صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالإِمَامُ
رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ فِى أَهْلِهِ رَاعٍ ،
وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا
رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا ، وَالْخَادِمُ فِى مَالِ
سَيِّدِهِ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ » قَالَ « وَالرَّجُلُ فِى
مَالِ أَبِيهِ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ ،
وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »
Artinya
: “Disampaikan kepada kami oleh Abu al-Yaman, kami diberitahu oleh Syu’aib dari
al-Zuhri berkata, disampaikan kepadaku oleh Salim bin Abdullah dari Abdullah
bin Umar ra. bahwa ia telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda; setiap kalian adalah pemimpin dan akan dipinta laporan
pertanggungjawabannya, seorang imam adalah pemimpin dan ia akan dipinta laporan
pertanggungjawabannya, seorang pria adalah pemimpin dan akan dipinta laporan
pertanggungjawabannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia
akan dipinta laporan pertanggungjawabannya, seorang pembantu adalah pemimpin
terhadap amanah atasannya dan ia akan dipinta laporan pertanggungjawabannya.
Lanjutnya, dan seorang anak adalah pemimpin terhadap amanah orangtuanya dan ia
akan dipinta laporan pertanggungjawabannya, maka kalian semua adalah pemimpin,
dan setiap kalian akan dipinta laporan pertanggungjawabannya.” [HR. al-Bukhari]
Jika
kita dalami isi hadits ini, sungguh begitu rinci Rasulullah Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengklasifikasi arti dan tugas kepemimpinan
dalam Islam. Dan ungkapan yang selalu diulang-ulang olehnya “dan akan
dipinta laporan pertanggungjawabannya” merupakan bukti sangat ditekankannya
untuk menunaikan amanah kepemimpinan dari setiap orang. Maka sungguh menjadi
orang yang sangat merugi jika harus bertanggung jawab di hadapan Allah dengan
bukti kezhaliman, bukti kedurhakaan, bukti ketakabburan, dan bukti kemunafikan,
na’udzubillahi min dzalik. Lalu bagaimanakah cara membangun kepribadian yang
berdiri di atas pondasi amanah tersebut ;
1.
Selalu Mengingat Allah Subhanahu wata’ala.
Sebuah
ungkapan yang begitu mudah terlontar dari lisan namun sulit dalam tataran
implementasi. Namun bukan berarti kita harus pesimis dalam menerapkannya,
karena siapapun yang terus bersusaha pasti akan mendapatkan hasil yang baik.
Adapun kata mengingat Allah sering di disebut dengan istilah dzikrullah, dan
jika dicari syarah atau penjelas dari kata tersebut maka di dapatkan bahwa alat
untuk mengingat Allah itu adalah ; (1) lisan, dalam artian bahwa seluruh
ungkapannya adalah kebaikan, tidak ada hinaan, fitnah, kebohongan, dusta dll.
(2) akal, yakni seluruh pikirannya harus selalu berkeinginan untuk membangun
nilai-nilai peradaban yang baik atau dalam bahasa keagaaman sering disebut
dengan masyarkat yang tamaddun, bukannya malah untuk mencari keuntungan pribadi
dan kelompok. (3) perbuatan, yakni semua kemampuannya dikeluarkan demi mencapai
dan membangun visi yang sudah tertanam di dalam akal tadi, sehingga ketidak
adilan, kezhaliman dan penindasan akan dengan sendirinya akan mudah dinegasi di
dalam kehidupan kita.
Jika
ini semua terbangun dengan baik, maka dengan sendirinya Allah yang akan
menolong dan membatu serta menenangkan diri kita. Pantas jika kemudian Allah
sangat menekankan pentingnya dzikrullah ini, sebagaimana firman-Nya “ala bidzikrillah
thatma’innul qulub” (hanya dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang),
bukan sekedar hati sang pendzikir tapi juga semua yang berada disekelilingnya
merasa nyaman dan aman.
Dalam
ungkapan lain, Imam Ali bin Abi Thalib ketika menjelaskan penjelasan tentang
iman, yang pertama kali ia sebutkan adalah “al-khauf bi al-Jalil” hendaknya
takutlah kepada Allah. Takut yang dibangun bukan seperti takutnya kita dengan
segala hal yang menyeramkan dan menakutkan, akan tetapi takut jika Allah akan
meninggalkan, naudzubillah. Sesungguhnya hanya dengan bersama-Nya lah kebutuhan
tertinggi kita, apalah fungsi kekayaan jika Allah meninggalkan kita, apalah
fungsi kekuasaan jika hanya akan membuat Allah jauh dari kita, maka
sesungguhnya hanya Engkaulah tujuan kami.
Ketika
visi ini yang dibangun di dalam diri maka apakah masih akan ada politik kotor
dalam kepemimpinan kita. Mungkinkah kehendak untuk korupsi masih akan hadir,
apakah perasaan sombong dan takabur akan mudah kita telan di dalam diri kita ?
Tentunya tidak, karena Sang Maha Suci yakni Allah pasti akan menjaga siapapun
yang telah mensucikan kepribadiannya. Namun jika tidak, maka inilah sama
seperti yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam firmannya, ketika ada suatu
kaum yang diberikan kelebihan segalanya, namun karena ia abaikan Allah dalam
dirinya maka dengan begitu mudah pula Allah menghancurkan mereka. Lihat surat
al-Nahl ayat 112.
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً
كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ
فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ
بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
Artinya
: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang
dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap
tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah
merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang
selalu mereka perbuat.”
Step
selanjutnya adalah mengenai pengendalian diri dalam gairah cantik dan megahnya
kursi kekuasaan, yakni ;
2.
Jangan
Meminta-Minta Menjadi Pemimpin.
Mengenai
hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menasehati Abu Dzar
yang saat itu meminta salah satu jabatan sebagai seorang Qadhi atau Hakim,
padahal ia juga adalah seseorang yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam, Beliau bersabda; “Sesungguhnya engkau ini lemah, sementara
jabatan adalah amanah, di hari kiamat dia akan mendatangkan penyesalan dan
kerugian, kecuali bagi mereka yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan
apa yang menjadi kewajiban atas dirinya” [HR Muslim].
Ungkapan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas sejalan dengan apa yang telah
diajarkan Allah kepadanya melalui sejarah Nabi Allah Yusuf as. di dalam
al-Qur’an, di mana ketika seorang Raja memintanya untuk menghadap dan diberikan
jabatan tinggi di kerajaannya, namun ia (Nabi Yusuf as) tidak menerimanya,
namun ia memberikan masukan kepada sang raja agar ia dapat duduk di pos yang
memang menjadi keahliannya, dan bukan mencari tempat-tempat “basah” yang
kemudian memberikan keuntungan pribadinya semata. Adapun kriteria kemampuan
diri itu adalah, ikhlas, amanah, memiliki keunggulan dari kompetitor lainnya,
dan jika wewenang itu digunakan oleh orang lain maka akan memunculkan bencana
dan keterpurukan. Lihat Tafsir QS Yusuf ayat 55.
Ungkapan
lain yang dapat kita gunakan sebagai bahan ajar kehidupan kita adalah hadits
Rasulullah yang juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.
yakni ;
إِذَا وُسِدَ اْلأَمْرُ إِلىَ غَيْرِ
أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
Artinya
: “jika suatu pekerjaan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah
kehancurannya.”
Sesungguhnya kemampuan untuk memimpin itu adalah anugrah sekaligus laknah,
anugrah jika dijalankan secara profesional namun menjadi laknah ketika hanya
kebutuhan syahwat dan perut yang dikedepankan. Selanjutnya adalah,
3.
Kuat
dan Penuh Dengan Cinta.
Istilah
kuat di ambil dari al-Qur’an yang dikenal dengan “al-qawiy al-amin” kuat dan
amanah. Imam al-Thabari di dalam kitabnya Tafsir al-Thabari menjelaskan bahwa
kata “al-amin” maksudnya adalah kuat secara fisik dan juga kuat secara intelektual.
Artinya, seorang pemimpin harus mampu bergerak cepat dalam memimpin demi
kesejahteraan siapapun yang dipimpinnya, dan secara intelektual menunjukkan
bahwa seorang pemimpin selain harus kerja keras tapi juga harus kerja cerdas.
Mengenai
hal ini, saya teringat dengan ungkapan Khalifah kedua umat Islam yakni Umar bin
Khattab ra., bahwa “keadaan kalian (rakyat) adalah bergantung dengan keadaanku,
jika kalian semua baik maka sesungguhnya aku berusaha untuk itu, namun jika
kalian rusak, maka aku yang paling bertanggung jawab tentang hal itu”. Sungguh
demikian seorang pemimpin sejati, adapun yang terjadi saat ini adalah, “jika
semua baik itu dariku, tapi jika rusak maka itu kesalahan bawahanku”,
al-‘Iyadzu billah.
Adapun
tentang rasa cinta atau kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya
digambarkan oleh Rasulullah beserta para khalifahnya melalui ciuman sayang
kepada anak-anak. Dalam hal ini, dikisahkan bahwa pada suatu hari ada seseorang
yang dipanggil oleh Umar untuk diangkat menjadi pemimpin di salah satu negeri
Islam, ketika ia melihat Umar sedang menciumi dan bersenda gurau dengan
anak-anaknya, lalu ia bertanya tentang prilaku Umar tersebut. Umar-pun menjawab
dengan sebuah pertanyaan, “apakah engkau tidak pernah melakukan hal seperti ini
?” dan dijawab “tidak pernah”, maka pada saat itu juga ia mengatakan, “kalau
begitu aku tidak jadi mengangkatmu jadi amir, karena rahmat Allah sangat jauh
darimu”.
Ungkapan
terahir Umar sangatlah menggugah, di mana Rahmat Allah jauh dari orang-orang
yang tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Artinya, sinergitas antara
pemimpin dengan rakyat dapat dibangun jika sang pemimpin mampu menyayangi
siapapun yang akan bekerja bersamanya. Karena meskipun sang pemimpin begitu
hebat namun rakyatnya membenci maka tidak ada guna kehebatannya bagi rakyat.
4.
Jangan Mengambil Kesempatan Melalui Jalur Kedekatan Emosional.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda; “barang siapa yang menempatkan
seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah
ridhai, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang
mukmin”. [HR. al-Hakim]. Umar bin Khatab juga pernah berkata; “Siapa yang
menempatkan seseorang pada jabatan tertentu, karena rasa cinta atau karena
hubungan kekerabatan, dia melakukannya hanya atas pertimbangan itu, maka
sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin”.
Sungguh
tegas ungkapan para petinggi awal Islam ini dalam menegaskan tingginya amanah
kepemimpinan. Amanah yang kecil hubungannya dengan manusia namun begitu besar
di hadapan Allah. Oleh karenanya, jika yang menjadi petimbangan agung dalam
menetapkan para pemimpin adalah karena faktor kedekatan emosi, maka begitu
banyak yang akan tersakiti terkhusus bagi mereka yang memang lebih berhak untuk
duduk di sana. Dalam hal ini, ada sebuah kaidah berpikir di dalam materi ushul
fiqh yakni menelaah dari makna tersirat atau yang dikenal dengan istilah mafhum
mukhalafah untuk menelaah prilaku negatif di atas.
Objek
kajian dari materi ini adalah adanya dosa jariah bagi yang mengangkat siapapun
karena faktor emosi dan bahkan orang yang bukan ahlinya sedangkan ada yang
lebih berhak untuk duduk di sana. Dasar awalnya sebagai materi mafhum muwafaqah
atau pemahaman yang tersurat adalah hadits tentang amal jariah, di mana amal
tersebut akan terus mengalir bagi siapapun yang memberikan manfaat positif bagi
semua orang atau sosial. Artinya, jika ada yang memberikan kemudharatan sosial
secara tersetruktur, maka dosanya akan terus mengalir meskipun ia telah
meninggal dunia, inilah pemahaman terbalik dari tersurat yakni pemahaman
tersirat atau yang disebut dengan mafhum mukhalafah, wal’iadzu billah. Hal ini
sejalan dengan ungkapan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ;
“barang siapa dalam Islam melestariakan tradisi yang buruk, maka baginya dosa
dan dosa orang-orang yang melaksankan, sesudahnya tanpa mengurangi dosa-dosa
mereka sedikitpun” [HR. Muslim].






0 komentar:
Post a Comment