Berbagai
kasus tentang tindak pidana korupsi dan yang lainnya dari kalangan para pejabat
di negeri ini membuktikan bahwa kondisi mental kepemimpinan kita sedang turun,
dengan demikian harus ada kinerja extra bagi para penegak hukum untuk lebih
jujur dan amanah dalam menyikapi ini, jangan malah menjadi incaran para
koruptor yang mempunyai kekuasaan namun harus adil dan bijaksana serta tak
kenal pilih kasih dalam menindak pidana.
Kasus-kasus
pidana korupsi sangat berkaitan dengan mentalitas kepemimpinan dan amanah dari
para pemegang kekuasaan, jika dianalogikan dalam perspektif social pemimpin
yang baik harus mensejahterkan rakyat karena dalam system demokrasi yang dianut
rakyat mempunyai kuasa dalam hal memilih dan menurunkan pejabat yang korup,
namun rasanya hal ini menjadi awam bagi masyarakat karena mereka dianggap bodoh
dalam hal hukum. Mereka dianggap diam, dan bodoh tidak tahu apa-apa, sejatinya
mereka sedang berdiam diri dan lebih kuat mentalnya daripada mereka yang
menganggap dirinya superior mental dan kecerdasan memimpin. Rakyat sudah biasa
hidup susah dan mengayomi dirinya daripada harus merengek kepada pemerintahan
yang amburadul. Hal ini lebih mengidentifikasikan bahwa persoalan mental rakyat
kecillah yang lebih hebat dan lebih tanggung dibandingkan mereka yang notabene “katanya”
wakil rakyat.
Revolusi
mental meminjam istilah salah satu kandidat calon presiden no urut 2 periode
2014-2015 tidak lagi menjadi landasan para petinggi Negara untuk memajukan
pemerintahannya melainkan lebih tepat kepada “revolusi kekayaan”. Miris dan
tragis berbagai dana dikeluarkan dalam kampanye, hutang besar-besaran janji
kemunafikan dan berbagai cara licik lainnya dipoles sehingga kelihatannya adil
dan membela rakyat. Muka pengemis dipasang dalam baliho besar meminta dukungan
suara “pembela wong cilik”, modus-modus disampaikan hanya untuk menduduki kursi
kepemimpinan yang nantinya jika jadi hanya berorientasi mengembalikan hutang
bukan merealisasikan janji kampanye dan aspirasi rakyat. Jika memang
mengaspirasikan rakyat itupun hanya aspirasi yang meminjamkan uang dalam modal
kampanye.
Mungkin
lebih tepatnya dalam hal kepemimpinan ini disebut dengan mental “BALAS BUDI”,
membalas kepada siapa yang memberI dan kepada siapa yang menemani dan
menutupi kecurangannya. Amanah rakyat sudah dilupakan yang ada amanah
kepentingan dijalankan. bintang.






0 komentar:
Post a Comment