Pages

Saturday, 7 February 2015

"KATANYA" WAKIL RAKYAT

Berbagai kasus tentang tindak pidana korupsi dan yang lainnya dari kalangan para pejabat di negeri ini membuktikan bahwa kondisi mental kepemimpinan kita sedang turun, dengan demikian harus ada kinerja extra bagi para penegak hukum untuk lebih jujur dan amanah dalam menyikapi ini, jangan malah menjadi incaran para koruptor yang mempunyai kekuasaan namun harus adil dan bijaksana serta tak kenal pilih kasih dalam menindak pidana.

Kasus-kasus pidana korupsi sangat berkaitan dengan mentalitas kepemimpinan dan amanah dari para pemegang kekuasaan, jika dianalogikan dalam perspektif social pemimpin yang baik harus mensejahterkan rakyat karena dalam system demokrasi yang dianut rakyat mempunyai kuasa dalam hal memilih dan menurunkan pejabat yang korup, namun rasanya hal ini menjadi awam bagi masyarakat karena mereka dianggap bodoh dalam hal hukum. Mereka dianggap diam, dan bodoh tidak tahu apa-apa, sejatinya mereka sedang berdiam diri dan lebih kuat mentalnya daripada mereka yang menganggap dirinya superior mental dan kecerdasan memimpin. Rakyat sudah biasa hidup susah dan mengayomi dirinya daripada harus merengek kepada pemerintahan yang amburadul. Hal ini lebih mengidentifikasikan bahwa persoalan mental rakyat kecillah yang lebih hebat dan lebih tanggung dibandingkan mereka yang notabene “katanya” wakil rakyat.

Revolusi mental meminjam istilah salah satu kandidat calon presiden no urut 2 periode 2014-2015 tidak lagi menjadi landasan para petinggi Negara untuk memajukan pemerintahannya melainkan lebih tepat kepada “revolusi kekayaan”. Miris dan tragis berbagai dana dikeluarkan dalam kampanye, hutang besar-besaran janji kemunafikan dan berbagai cara licik lainnya dipoles sehingga kelihatannya adil dan membela rakyat. Muka pengemis dipasang dalam baliho besar meminta dukungan suara “pembela wong cilik”, modus-modus disampaikan hanya untuk menduduki kursi kepemimpinan yang nantinya jika jadi hanya berorientasi mengembalikan hutang bukan merealisasikan janji kampanye dan aspirasi rakyat. Jika memang mengaspirasikan rakyat itupun hanya aspirasi yang meminjamkan uang dalam modal kampanye.

Mungkin lebih tepatnya dalam hal kepemimpinan ini disebut dengan mental “BALAS BUDI”, membalas kepada siapa yang memberI dan kepada siapa yang menemani dan menutupi kecurangannya. Amanah rakyat sudah dilupakan yang ada amanah kepentingan dijalankan. bintang.


0 komentar:

Post a Comment