Ta’rif
(Definisi) Ikhlas
Ikhlas
secara bahasa artinya memurnikan sesuatu dan membersihkannya dari campuran.
Secara istilah, ada beberapa ta’rif, di antaranya adalah:
Ikhlas
adalah penyucian niat dari seluruh noda
dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Noda di sini misalnya
mencari perhatian makhluk dan pujian mereka.
Ikhlas
adalah pengesaan Allah Ta’ala dalam niat dan ketaatan.
Ikhlas
adalah melupakan perhatian makhluk dan selalu mencari Allah Ta’ala.
Ikhlas
adalah seorang berniat mendekatkan diri kepada Allah dalam ibadahnya.
Ikhlas
adalah samanya perbuatan seorang hamba antara yang nampak dan yang tersembunyi.
Singkatnya,
ikhlas adalah seseorang beribadah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah,
mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap siksa-Nya dan ingin mencari ridha-Nya.
Dzun
Nun al-Mishriy rahimahullah berkata: “Tiga tanda keikhlasan adalah: (1)
Seimbangnya pujian dan celaan orang-orang terhadapnya, (2) Lupa melihat amal
dalam beramal, (3) Dan mengharapkan pahala amalnya di akhirat.”
Kedudukan
Ikhlas
Ikhlas adalah asas keberhasilan dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Ikhlas bagi amal ibarat pondasi bagi sebuah bangunan dan ibarat ruh bagi sebuah jasad, di mana sebuah bangunan tidak akan dapat berdiri kokoh tanpa pondasi, demikian juga jasad tidak akan dapat hidup tanpa ruh. Oleh karena itu, amal shalih yang kosong dari keikhlasan akan menjadikannya mati, tidak bernilai serta tidak membuahkan apa-apa, atau dengan kata lain “wujuuduhaa ka’adamihaa” (keberadaannya sama seperti ketidakadaannya).
Ikhlas
juga merupakan syarat diterimanya amal di samping sesuai dengan sunah. Allah
‘Azza wa Jalla berfirman dalam hadis Qudsi:
أَنَا أَغْنَى
الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى
تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku
sangat tidak butuh sekutu, siapa saja yang beramal menyekutukan sesuatu
dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia dan syirknya.” (HR. Muslim).
Tempat
Ikhlas
إِذَا صَلَحَتْ
صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ .
“Apabila
hati menjadi baik, maka akan baik pula seluruh jasadnya, dan apabila hati
menjadi rusak, maka akan rusak seluruh jasadnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Seseorang dituntut untuk berniat ikhlas dalam seluruh amal shalihnya, baik shalatnya, zakatnya, puasanya, jihadnya, amar ma’ruf dan nahi munkarnya, serta amal shalih lainnya, termasuk belajarnya. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Janganlah kalian belajar agama karena tiga hal; agar dapat mengalahkan orang-orang tidak tahu, agar dapat mendebat para fuqaha’ dan agar perhatian orang-orang beralih kepada kalian. Niatkanlah dalam kata-kata dan perbuatan kalian untuk memperoleh apa yang ada di sisi Allah, karena hal itu akan kekal, adapun selainnya akan hilang.”
Buah
yang Dihasilkan dari Keikhlasan
Buah yang dihasilkan dari keikhlasan sungguh banyak, seorang yang ikhlas dalam mengucapkan laa ilaaha illallah, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya. Seorang yang mengikuti ucapan muadzin dengan ikhlas, maka Allah akan memasukkannya ke surga. Seorang yang menuntut ilmu agama dengan ikhlas, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Seorang yang ikhlas menjalankan puasa, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Bahkan perbuatan mubah akan menjadi berpahala dengan keikhlasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكَ لَنْ
تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِيَ بِهَا وَجْهُ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى
مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ
“Sesungguhnya
kamu tidaklah menafkahkah satu nafkah pun karena mengharapkan keridhaan Allah,
kecuali kamu akan diberikan pahala terhadapnya sampai dalam suapan yang kamu
masukkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari-Muslim)
Perhatikanlah kisah tiga orang yang bermalam di sebuah gua, lalu jatuh sebuah batu besar menutupi gua tersebut, sehingga mereka tidak bisa keluar. Masing-masing mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal shalih yang mereka kerjakan dengan ikhlas, akhirnya Allah menyingkirkan batu tersebut dari gua, hingga mereka semua bisa keluar. Ini sebuah contoh buah dari keikhlasan.
Akibat
Tidak Ikhlas
Sebaliknya,
jika amal shalih dikerjakan atas dasar niat yang tidak ikhlas, bukan
mendapatkan pahala, bahkan mendapatkan siksa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
“Sesungguhnya
orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid.
Ia pun dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun
mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia
menjawab, “Aku (gunakan untuk) berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid”,
Allah berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya kamu berperang agar dikatakan sebagai
pemberani dan sudah dikatakan demikian”, kemudian Allah memerintahkan orang itu
agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke
neraka. (Kedua) seorang yang belajar agama, mengajarkannya dan membaca Alquran,
ia pun dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun
mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia
menjawab, “Aku (gunakan untuk) mempelajari agama, mengajarkannya dan membaca
Alquran karena Engkau”, Allah berfirman: “Kamu dusta, sebenarnya kamu belajar
agama agar dikatakan orang alim, dan membaca Alquran agar dikatakan qaari’, dan
sudah dikatakan”, kemudian Allah memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia
diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka. (Ketiga) seseorang
yang dilapangkan rezekinya dan diberikan kepadanya berbagai jenis harta, ia pun
dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun
mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia menjawab,
“Tidak ada satu pun jalan, di mana Engkau suka dikeluarkan infak di sana
kecuali aku keluarkan karena Engkau”. Allah berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya
kamu lakukan hal itu agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan sudah
dikatakan”, kemudian Allah memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret
dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka.” (HR. Muslim).
Contoh
Riya’ dan Kurang Ikhlas
Berikut
beberapa contoh riya’ dan amalan yang kurang ikhlas:
Seorang
menambahkan lagi ketaatannya ketika dipuji, atau mengurangi bahkan meninggalkan
ketaatan ketika dicela.
Seseorang
beramal shalih dan berakhlak mulia agar dicintai orang-orang, diperlakukan
secara baik dan mendapat tempat di hati mereka. Jika hal itu tidak tercapai, ia
pun berat sekali melakukannya.
Seseorang
bersedekah karena ingin dilihat orang, jika tidak ada yang melihatnya, ia tidak
mau bersedekah.
Ibnu Rajab berkata, “Dan termasuk
penyakit riya’ yang tersembunyi adalah bahwa seseorang terkadang merendahkan
dirinya, di hadapan manusia, mengharap dengan itu agar manusia melihat bahwa
dirinya adalah seorang tawadhu’, sehingga terangkat kedudukannya di sisi mereka
dan mendapat pujian dari mereka..”






0 komentar:
Post a Comment